Peranan Zat Gizi Mikro dalam Mendukung Kesehatan kognitif




Berdasarkan perilaku neurologi (behavioral neurology), kognitif merupakan suatu proses transformasi, pengolahan, penyimpanan dan penggunaan stimulus sensori (gerak, gambar dan suara) oleh sel-sel syaraf sehingga seseorang mampu menerjemahkan stimulus tersebut.


Terdapat lima fungsi kognitif, yaitu pemusatan perhatian (attention), bahasa (language), daya ingat (memory), pengenalan ruangan (visuospatial), dan eksekusi (executive function) yang meliputi perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan. Fungsi pemusatan perhatian (konsentrasi) merupakan kemampuan seseorang untuk bereaksi terhadap stimulus tertentu dan mengabaikan stimulus lain yang relatif tidak penting. Fungsi bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi. Fungsi daya ingat dibangun melalui serangkaian proses yang terdiri dari penerimaan, penyandian, penyimpanan, dan penerjemahan stimulus. Fungsi pengenalan ruangan merupakan kemampuan konstruksional seperti menggambar, meniru gambar, atau menyusun sekumpulan balok. Sedangkan fungsi esksekusi merupakan kemampuan berpikir dan memecahkan permasalahan. Gangguan yang terjadi pada salah satu fungsi tersebut, akan mengganggu fungsi kognitif yang lain. Misalnya gangguan fungsi pemusatan perhatian akan memengaruhi fungsi kognitif lain, seperti fungsi bahasa, daya ingat, pengenalan, dan eksekusi. Faktor kecukupan gizi berpengaruh terhadap kesehatan kognitif (kecerdasan) selama masa pertumbuhan dan perkembangan otak, yaitu sejak bayi dilahirkan hingga usia 18 bulan. Selain itu, menurunnya kemampuan kognitif usia lanjut juga berhubungan dengan status kesehatan, gaya hidup, dan pola konsumsi pangan. Oleh karena itu, pada periode tersebut diperlukan asupan pangan yang mengandung zat gizi makro dan zat mikro. Zat gizi makro adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah relatif besar.


Kekurangan energi protein saat kehamilan akan menghambat sintesis protein untuk pembentukan sel-sel otak, sehingga akan berdampak terhadap berkurangnya berat otak. Selain itu, kekurangan energi protein juga menyebabkan berkurangnya mielinisasi, yaitu suatu proses pembentukan mielin yang berfungsi sebagai penghantar impuls saraf. Dengan demikian akan terjadi penurunan kemampuan berpikir, pengenalan, dan berkonsentrasi. Selain protein, asam lemak esensial juga berperan penting dalam peningkatan kecerdasan otak. Asam lemak dan kolesterol berperan sebesar 75% dalam pembentukan selaput syaraf pada otak yang akan memperlancar penghantaran impuls syaraf. Dua jenis asam lemak yang penting adalah asam lemak omega-3 dan omega-6. Asam lemak tersebut dapat diperoleh dari bahan pangan seperti susu (termasuk ASI), ikan, telur, kedelai dan produk olahannya. Zat gizi mikro adalah zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah relatif kecil atau sedikit tapi keberadaannya sangat mutlak di bahan pangan, seperti vitamin dan mineral. Mineral adalah unsur yang diperlukan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan otak bayi dan balita. Jenis-jenis mineral yang dibutuhkan untuk perkembangan otak antara lain sodium, potasium, kalsium, besi, zinc, yodium dan klorida. Potasium dan kalsium berperan dalam proses neurotransmiter antara satu sel dengan sel saraf lain termasuk sel otak. Mineral lain yaitu zat besi (Fe) berfungsi untuk pembentukan myelin (selaput lemak pelindung akson). Zat besi juga berguna untuk mempercepat penghantar syaraf, pemrosesan informasi dan kecerdasan.




Komponen zat gizi mikro yang mendukung kesehatan kognitif

Menurut Drake (2011), zat gizi mikro terlibat pada sejumlah proses kognisi baik secara langsung maupun tidak langsung. Keberlangsungan proses tersebut tergantung pada: (1) metabolisme energi di dalam sel-sel otak, (2) suplai darah menuju otak, (3) sintesis neurotransmiter (senyawa kimia yang dibebaskan dari sel-sel syaraf dan mentransmisikan impuls ke sel lain), (4) pengenalan dan pengikatan neurotramsmiter oleh reseptor, (5) propagasi impuls syaraf, dan (6) metabolisme homosistein. Otak merupakan jaringan yang mempunyai aktivitas metabolisme tinggi sehingga, memerlukan suplai glukosa secara kontinyu dan konstan untuk menghasilkan energi. Metabolisme glukosa di dalam otak membutuhkan beberapa vitamin termasuk tiamin, riboflavin, niasin, dan asam pantotenat yang berfungsi sebagai kofaktor enzim dalam oksidasi glukosa menjadi karbondioksida dan air. Beberapa mineral seperti magnesium, zat besi, dan mangan juga dibutuhkan dalam metabolisme glukosa. Suplai darah ke otak secara tepat, penting untuk menghasilkan oksigen, glukosa, zat gizi makro dan mikro untuk menjamin berlangsungnya fungsi kognitif secara normal. Gizi yang baik dapat membantu mempertahankan suplai darah ke otak secara optimal dan menurunkan risiko terjadinya stroke (kondisi patologi sebagai akibat dari kegagalan suplai darah ke otak).


Asam amino dan beberapa vitamin B dibutuhkan untuk sintesis neurotransmiter di dalam otak. Selain itu vitamin C diperlukan untuk sintesis neurotransmiter norepinefrin, dan mineral zinc diperlukan untuk berfungsinya neurotransmiter norepinefrin, aspartat, dan gamma-aminobutyric acid (GABA). Vitamin tersebut juga dapat mempengaruhi pengenalan dan pengikatan neurotransmiter oleh reseptornya pada neuron (sel-sel otak). Secara tidak langsung zat gizi mikro berperan dalam propagasi impuls syaraf dengan menjaga integritas selubung mielin sel syaraf. Selubung mielin tersebut tersusun dari lemak dan protein, dikelilingi dan dilapisi serabut syaraf dan berfungsi sebagai saluran (kanal) yang memungkinkan transmisi impuls listrik berlangsung secara cepat dan efisien. Folat dan vitamin B12, dibutuhkan untuk mempertahankan integritas selubung mielin, oleh karena itu vitamin ini penting dalam propagasi impuls syaraf. Selain itu, vitamin B dan tiamin dibutuhkan untuk mempertahankan potensial membran dan konduktansi (penyaluran arus listrik) yang tepat oleh sel-sel syaraf. Zat besi dibutuhkan untuk perkembangan oligodendrosit, yaitu sel-sel otak yang memroduksi mielin.Asam folat, vitamin B6 dan vitamin B12 dibutuhkan untuk metabolisme homosistein menjadi metionin dan sistein. Defiensi vitamin tersebut mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar homosistein plasma yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit serebrovaskuler yang dihubungkan dengan penurunan fungsi-fungsi kognitif. Dr. Nurheni Sri Palupi

Lebih lengkap mengenai artikel ini, dapat dibaca di majalah FOODREVIEW INDONESIA edisi Februari 2014 atau klik di sini

Artikel Lainnya

  • Ags 18, 2019

    Cara Mendapatkan Nomor Izin Edar (NIE)

    Untuk mendapatkan nomor izin edar dapat melakukan registrasi akun melalui laman e-reg.pom.go.id. Pertama kali dapat melakukan registrasi akun perusahaan untuk mendapatkan user ID dan password. Dalam registrasi akun perusahaan ada beberapa persyaratan yang diberlakukan dan berbeda untuk jenis kategori produk dalam negeri (MD) dan produk luar negeri (ML). ...

  • Ags 17, 2019

    Kriteria Pendaftaran Pangan Olahan

    Kriteria pendaftaran untuk produk pangan olahan di Indonesia terbagi berdasarkan jenis pangan yakni MD produksi sendiri, MD diproduksi berdasarkan kontrak, dan ML. Pengajuan pendaftaran untuk setiap jenis pangan dibagi menjadi MD produksi sendiri yaitu pihak yang memproduksi, MD diproduksi berdasarkan kontrak yaitu pemberi kontrak, dan ML yaitu importir atau distributor.  ...

  • Ags 16, 2019

    Peraturan Registrasi Pangan Olahan

    Permintaan konsumen yang semakin tinggi terhadap produk olahan pangan tentu membuat produsen pangan berlomba-lomba menghadirkan produk baru yang dapat memuaskan tuntutan tersebut. Kendati demikian, adanya produk pangan olahan yang baru harus selalu dikontrol terkait dengan status edar produk tersebut.  ...

  • Ags 15, 2019

    Kebutuhan Gizi untuk Lansia

    Lansia sehat memerlukan 1-1.2 g protein/kg berat badan per hari.  Sumber protein dari nabati misalnya tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Sumber protein hewani adalah telur, ikan, daging dan lain-lain. Dengan kondisi gigi yang mungkin sudah tidak lengkap, maka segala pangan sumber protein tersebut harus diolah sedemikian rupa sehingga tidak menyulitkan proses pengunyahan oleh lansia.  ...

  • Ags 14, 2019

    Kondisi Lansia di Indonesia

    Indonesia menduduki peringkat ke-empat sebagai negara dengan jumlah lansia terbanyak setelah Cina, India, dan Amerika. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan populasi lansia sebanyak 9,58 persen pada tahun 2010 akan meningkat menjadi 11,20 persen tahun 2020. Peningkatan dua kali lipat jumlah lansia terjadi pada dua dekade, yaitu pada tahun 2000 jumlahnya hanya 14 juta jiwa, dan kemudian menjadi 28 juta di tahun 2020.  ...

Finasterid Generika 1mg cialis super active online Lida Daidaihua Inhaltsstoffe Original Viagra Use Generisk finasterid ED Packs Levitra Original Kamagra Effervescent Tablets Meizitang soft gel original version Propecia For Hair Loss Viagra 50mg Generic Levitra (Vardenafil) 20mg Lida Daidaihua Lida Daidaihua Meizitang funziona Original Viagra Pills Pacchetto di prova generici Lipitor Generika Kamagra Super ingredientes activos Meizitang in Ireland