Perkembangan Regulasi Asam Lemak Trans di Dunia


Pada awal 1990, minyak nabati yang terhidrogenasi parsial (PHVO, partial hydrogenated vegetable oil) hadir menggantikan lemak hewani yang dinilai menjadi penyebab utama jantung koroner karena kandungan lemak jenuh dan kolestrolnya yang tinggi. Namun demikian, temuan awal Mensink dan Katan pada 1992 dan 1995 yang menunjukkan bahwa lemak trans meningkatkan nilai kolestrol baik low density lipoprotein (LDL) dan menurunkan nilai kolestrol jahat high density lipoprotein (HDL) mendorong dilakukan banyak penelitian lain hingga saat ini yang menunjukkan temuan-temuan dampak buruk lemak trans terhadap kesehatan.Sayangnya, temuan tersebut berfokus pada lemak trans buatan, sementara bukti ilmiah isu kesehatan terkait lemak trans alami belum banyak diangkat (Kodali, 2014).
Temuan tersebut berdampak pada revisi regulasi lemak trans secara global. Pada 2006, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA, U.S. Food Drug and Adminitration) mengharuskan pencantuman kandungan lemak trans di label pangan. Berlanjut pada 2013, lemak trans diusulkan tidak lagi berstatus generally recognized as safe (GRAS) dan status ini secara final ditetapkan pada 2015. Lebih lanjut, FDA menetapkan hingga Juni 2018, semua produk pangan di Amerika Serikat harus sudah bebas lemak trans, kecuali dengan izin FDA (FDA, 2017).
 
Lebih lengkapnya dapat dibaca di FOODREVIEW Indonesia edisi "Snackification" | Desember 2017 | Untuk pembelian atau langganan majalah bisa hubungi langganan@foodreview.co.id

Artikel Lainnya

  • Jan 18, 2018

    Peran Lipase dan Glukosa Oksidase dalam Pembuatan Roti

    Lipase dan Glukosa Oksidase merupakan dua enzim yang diaplikasikan pada pembuatan roti. Lipase menghidrolisis ikatan ester pada asilgliserol menghasilkan mono- dan digliserida, serta asam lemak bebas. Aplikasi lipase komersial relatif baru dibandingkan dengan enzim yang lain. Sebagian besar lipase komersial berasal dari jamur. Lipase spesifik terutama meningkatkan kekuatan dan stabilitas adonan. Gluten dari tepung terigu yang diperlakukan dengan lipase lebih kuat dan lebih elastis. Oleh karenanya, lipase dapat menjadi alternatif pengganti bahan kimia untuk penguatan adonan dan emulsifier. ...

  • Jan 16, 2018

    Penambahan Hidrokoloid Perbaiki Sifat Sensoris Bakeri dari Tepung Termodifikasi

    Selain gluten, komponen lain yang juga sangat penting untuk bakeri adalah pati. Penambahan pati berhubungan dengan struktur, kadar air, umur simpan, hasil dan juga biaya produksi. Secara sensoris, pati mempengaruhi rasa, tekstur dan mouthfeel produk. Pati dapat memengaruhi kekentalan serta crispness produk pangan. Oleh karena tepung termodifikasi mengandung kadar pati yang jauh lebih tinggi daripada terigu (amilosa > 25%), maka tentunya produk yang dihasilkan akan memiliki karakteristik pengembangan, kelarutan, penyerapan air dan gelatinisasi yang berbeda. Secara sensoris produk yang dihasilkan dengan penambahan tepung modifikasi cenderung memiliki tekstur yang lebih keras atau padat, kurang elastis, mudah patah dan keras (Yuwono, dkk, 2013).  ...

  • Jan 13, 2018

    Mempertahankan Kestabilan Bakeri dengan Emulsifier

    Emulsifier adalah bahan tambahan yang banyak digunakan pada adonan bakeri yang berfungsi untuk menjaga dan meningkatkan kestabilan adonan tersebut dengan cara menyatukan cairan dan lemak sehingga dapat membantu proses aerasi, yaitu pemasukan udara pada saat pengocokan telur.  ...

  • Jan 12, 2018

    Konsumen Tertarik Mengonsumsi Krekers dengan Ingridien yang Menyehatkan

    Selain itu, Transparency Market Research melaporkan bahwa produk krekers diperkirakan mengalami laju pertumbuhan majemuk tahunan yang positif sepanjang 2016 sampai 2025. Pertumbuhan tersebut antara lain dipengaruhi oleh kesadaran konsumen terhadap kesehatan. Sebagian besar konsumen tertarik untuk mengonsumsi krekers dengan ingridien yang menyehatkan seperti kelompok legum, sayuran, biji-bijian kuno, serta bahan pangan tinggi protein. ...

  • Jan 11, 2018

    Regulasi Penggunaan Asam Amino dalam Produk Pangan

    Asam amino merupakan ingridien pangan yang diaplikasikan dalam berbagai bahan pangan. Selain sebagai pemenuhan gizi, asam amino juga berfungsi memberikan peningkatan karakter mutu produk pangan. "Sebagai bahan dasar pangan, asam amino bisa diaplikasikan untuk peningkatan kualitas gizi protein, ...