Rutin Minum Susu yang Diperkaya dengan GMP dan Lemak Susu Dapat Menangani Encok (Arthritis Gout)



Sebuah penelitian yang didukung oleh Fonterra dan diterbitkan pekan ini di British Medical Journal Annals of the Rheumatic Diseases menunjukkan bahwa susu tanpa lemak yang diperkaya dengan dua bahan alami yang terdapat di produk susu dapat mengurangi frekuensi dan intensitas nyeri encok (arthritis gout).

Dari pihak Fonterra, penelitian ini melibatkan divisi Premium Ingredients Fonterra, yang telah mematenkan kedua bahan terkait encok, yaitu glycomacropeptide (GMP) dan lemak susu G600 (G600) dan kini tengah mempelajari peluang untuk mendistribusikan solusi baru ini ke para penderita encok di seluruh dunia.

Penelitian revolusioner ini merupakan uji klinis pertama yang mempelajari pengaruh intervensi diet terhadap encok, dan dilaksanakan oleh Dr Nicola Dalbeth dari University of Auckland, Bone and Joint Research Group serta para peneliti dari Fonterra Research Centre and the University Department of Medicine. 

Dr Dalbeth menyatakan hasil penelitian ini merupakan kabar baik bagi jutaan penderita encok di seluruh dunia. Encok sendiri merupakan bentuk pembengkakan radang sendi yang paling lazim ditemui dan diasosiasikan dengan nyeri sendi yang luar biasa.
“Meski umumnya encok dianggap sebagai penyakit gizi, sampai saat ini tak ada uji klinis yang menunjukkan pengaruh positif yang ditimbulkan dari intervensi diet,” ungkapnya.

“Jika dikembangkan lebih jauh, temuan ini berpotensi memberikan pasien kendali lebih terhadap penyakit mereka, serta dapat menjadi sarana yang sangat bermanfaat untuk penanganan encok yang sampai saat ini masih terus dilakukan,” ujar Dr Dalbeth.

Prevalensi encok di tingkat dunia tampaknya terus meningkat dengan estimasi terkini bahwa prevalensi encok di Selandia Baru sekitar 2,9 persen dari seluruh populasi , sedangkan prevalensi di Australia dilaporkan sebesar 1,4 persen . Sebanyak 8,3 juta orang Amerika (4 persen) kini menderita encok sedangkan Inggris dan Jerman memiliki prevalensi 1,4 persen, sementara studi komparatif di China menunjukkan peningkatan prevalensi dari 0,36 persen di tahun 2000, hingga mencapai lebih dari 1 persen di tahun 2006 .

Di Indonesia, walaupun nilai prevalensi encok masih belum diketahui secara pasti, namun sebuah penelitan terpisah dan independen yang dilakukan oleh Zakiah Aris K. et al pada tahun 2004 menunjukan adanya jumlah prevelansi yang cukup signifikan di wilayah Rawasari, Jakarta Timur. Berdasarkan data dari penelitian tersebut, di daerah Kelurahan Rawasari ada sekitar 63,6 persen penduduk yang memiliki perilaku berisiko encok .
Joanna Mobley, Group Director of Marketing, Innovation and Ventures dari Fonterra Premium Ingredients menyatakan bahwa perusahaan sangat gembira atas temuan tersebut dan atas potensinya untuk menyediakan intervensi diet bagi para penderita encok.
“Berdasarkan statistik, tingkat prevalensi lebih dari 1 persen di China sepertinya kecil, namun sebenarnya menunjukkan lebih dari 15 juta penderita di satu negara itu saja.”

“Kami memahami bahwa encok kian mewabah di populasi usia dewasa di seluruh dunia, karena itu kami berharap temuan ini dapat memainkan peranan penting dalam strategi inovasi kami untuk mendukung proses penuaan yang sehat melalui gizi yang lebih sempurna,” kata Mobley.
Grup sampel yang terdiri dari 120 penderita encok diikutsertakan dalam studi tiga bulan yang menganalisis frekuensi dan intensitas nyeri encok. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi susu tanpa lemak mengalami penurunan nyeri encok dibandingkan dua kelompok kendali, dan mengalami perbaikan yang lebih baik terkait intensitas nyeri.

Penelitian ini didanai oleh LactoPharma; perusahaan patungan antara Fonterra dan University of Auckland, yang didanai oleh Fonterra and the Foundation for Research, Science and Technology.  @hendryfri

 

 

Effects of skim milk powder enriched with glycomacropeptide and G600 milk fat extract on frequency of gout flares: a proof-of-concept randomised controlled trial, N Dalbeth, R Ames, G D Gamble, A Horne, S Wong, B Kuhn-Sherlock, A MacGibbon, F M McQueen, I R Reid, K Palmano, Published online in the Annals of the Rheumatic Diseases 24th January 2012 (DOI 10.11.36/annrheumdis-20110200156)

National prevalence of gout derived from administrative health data Aoetearoa New Zealand, D Winnard, C Wright, W J Taylor G Jackson, L T Karu, P J Grow, B Arroll, S Thornley, B Gribben, N Dalbeth January 16 2012 (DOI: 10.1093/rheumatology/ker361)

2001 National Health Survey

(www.aihw.gov.au/WorkArea/DownloadAsset.aspx?id=6442453257)

Prevalence of Gout and Hyperuricemia in the US General Population.” Yanyan Zhu, Bhavik J Pandya, Hyon K Choi." Arthritis & Rheumatism; Published Online: July 28, 2011 (DOI: 10.1002/art.30520).

Nan H, Qiao Q, Dong Y, et al. The prevalence of hyperuricemia in a population of the coastal city of Qingdao, China. J Rheumatol 2006;33:1346-50. Lin KC, Lin HY, Chou P.

Community based epidemiological study on hyperuricemia and gout in Kin-Hu, Kinmen. J Rheumatol 2000;27:1045-50.

Knowledge and Behavior of Gouty Arthritis in Housewives in Kelurahan Rawasari, Jakarta Pusat. Zakiah Haris K, Eldra Felisia M, Miftahudin, Meita Primiarti, Bayu Lesmono, M Nurrizki H, Dwi Darmanto, Ridwan Siswanto. Affiliation Institute of Integration Study Programme Department of Community Medicine, Faculty of Medicine University of Indonesia, and Department of Public Health, National Development University “Veteran” (UPN), Jakarta, 2004.


Artikel Terkait