Gebyar Organik 2009

 

Gaya hidup sehat kembali ke alam telah menjadi tren baru masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Orang semakin menyadari bahwa penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk dan pestisida kimia sintetik serta penggunaan hormon kesuburan dalam produksi pertania n ternyata berdampak negatif bagi kesehatan manusia dan alam. Penggunaan pangan alami organik untuk sajian menu makan mampu mencegah kontaminasi tubuh dari bahan-bahan kimia sintetik yang berbahaya. Hal itu mengemuka dalam Gebyar Organik 2009 yang diselenggarakan oleh Masyarakat Pertanian ORganik Indonesia (Maporina) di Jakarta pada pertengahan Nopember lalu.

Keanekaragaman hayati Indonesia jumlahnya mencapai lebih dari 30.000 spesies dan budaya masyarakat yang menghargai alam, menjadi modal dasar bagi Indonesia untuk mengembangkan pertanian organik bagi kebutuhan masyarakat Indonesia maupun untuk kebutuhan ekspor. Masyarakat Jepang merupakan konsumen organik paling banyak di dunia, sedangkan di Indonesia konsumen penggunaan produk organik terus meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini, produk organik terutama untuk pangan organik suplainya masih terbatas, akibatnya harganya lebih mahal dari produk konvensional. “Produk pangan organik harganya 50% lebih mahal dari produk konvensional, bahkan ada yang lebih dari itu,” kata Ketua Umum Maporina Zainal Sudjais. Itulah sebabnya Maporina terus mendorong anggotanya untuk meningkatkan produksi pangan organik untuk memenuhi kebutuhan pasar yang senantiasa meningkat. Dalam acara Gebyar Organik tersebut, diserahkan pula penghargaan berupa Maporina Award kepada para peneliti di bidang organik yang hasil risetnya memberi kontribusi positif bagi kemajuan organik di Indonesia. Para peneliti yang meraih penghargaan itu yakni Sukamto (Fakultas Pertanian, Universitas Widyagama Malang),Agung Adi Candra (Politeknik Negeri Lampung), dan Syafrullah (Fakultas Pertanian Univeristas Muhammadiyah Palembang). Fri-08

-->

 

Gaya hidup sehat kembali ke alam telah menjadi tren baru masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Orang semakin menyadari bahwa penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk dan pestisida kimia sintetik serta penggunaan hormon kesuburan dalam produksi pertania n ternyata berdampak negatif bagi kesehatan manusia dan alam. Penggunaan pangan alami organik untuk sajian menu makan mampu mencegah kontaminasi tubuh dari bahan-bahan kimia sintetik yang berbahaya. Hal itu mengemuka dalam Gebyar Organik 2009 yang diselenggarakan oleh Masyarakat Pertanian ORganik Indonesia (Maporina) di Jakarta pada pertengahan Nopember lalu.

Keanekaragaman hayati Indonesia jumlahnya mencapai lebih dari 30.000 spesies dan budaya masyarakat yang menghargai alam, menjadi modal dasar bagi Indonesia untuk mengembangkan pertanian organik bagi kebutuhan masyarakat Indonesia maupun untuk kebutuhan ekspor. Masyarakat Jepang merupakan konsumen organik paling banyak di dunia, sedangkan di Indonesia konsumen penggunaan produk organik terus meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini, produk organik terutama untuk pangan organik suplainya masih terbatas, akibatnya harganya lebih mahal dari produk konvensional. “Produk pangan organik harganya 50% lebih mahal dari produk konvensional, bahkan ada yang lebih dari itu,” kata Ketua Umum Maporina Zainal Sudjais. Itulah sebabnya Maporina terus mendorong anggotanya untuk meningkatkan produksi pangan organik untuk memenuhi kebutuhan pasar yang senantiasa meningkat. Dalam acara Gebyar Organik tersebut, diserahkan pula penghargaan berupa Maporina Award kepada para peneliti di bidang organik yang hasil risetnya memberi kontribusi positif bagi kemajuan organik di Indonesia. Para peneliti yang meraih penghargaan itu yakni Sukamto (Fakultas Pertanian, Universitas Widyagama Malang),Agung Adi Candra (Politeknik Negeri Lampung), dan Syafrullah (Fakultas Pertanian Univeristas Muhammadiyah Palembang). Fri-08


Artikel Terkait