Manfaatkan Bioteknologi untuk Bangun Ketahanan Pangan



Keberadaan pangan sebagai salah satu pendukung vital kehidupan manusia telah mendapat perhatian yang serius dari berbagai kalangan dewasa ini. Hal itu dibahas dalam sebuah seminar mengenai pemanfaatan bioteknologi untuk mendukung ketahanan pangan yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa biologi IPB di Bogor pada akhir April lalu. Bioteknologi memiliki peran besar dalam membangun ketahanan pangan nasional mulai dari hulu hingga hilir. Aplikasi bioteknologi di mulai dari proses produksi bahan pangan di lahan yang ditujukan untuk menghasillkan bahan pangan dalam kuantitas dan kualitas tinggi. Dalam seminar tersebut, Pengurus Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Prof Winiati Puji Rahayu mengatakan, bioteknologi dapat melibatkan mikroba atau agen biologi tertentu untuk meningkatkan produktivitas hasil panen sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Salah satu yang telah banyak dikenal adalah teknologi genetically modified organism (GMO) atau yang dikenal sebagai pangan transgenik. Meskipun masih banyak diperdebatkan, pangan produk rekayasa genetik dapat dipasarkan di Indonesia setelah mengikuti serangkaian kajian keamanan pangan. Peredaran pangan produk rekayasa genetik telah diatur dalam Undang-Undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan pasal 13.

Bioteknologi juga dapat dimanfaatkan dalam proses pengolahan pangan. Penggunaan teknologi pangan ditujukan untuk meminimalkan perubahan kualitas, meningkatkan nilai, serta meningkatkan jaminan keamanan terhadap pangan olahan. Contoh proses yang melibatkan bioteknologi dalam pengolahan pangan yang telah lama dikembangkan di Indonesia adalah teknologi fermentasi. Teknologi fermentasi yang telah ada sejak jaman nenek moyang Indonesia dan masih ada hingga saat ini antara lain digunakan dalam pembuatan tempe, brem, terasi, oncom, kecap, dadih, dan lain sebagainya. Sementara itu, produk bioteknologi lain yang saat ini mulai banyak dikembangkan dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal antara lain prebiotik seperti FOS dan GOS menggunakan umbi-umbian dan bahan pangan lain yang berserat.

Dalam kesempatan yang sama, ahli biologi molekuler Prof Anton Suwanto menambahkan, sebagai negara yang memiliki biodiversitas tinggi, Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan pangan berbasis bioteknologi. Potensi pangan lokal Indonesia yang saat mulai banyak digali diharapkan dapat mendukung kemandirian pangan Indonesia. Upaya pengkajian, pengembangan, serta promosi yang terintegrasi dan berkelanjutan diharapkan terus dilaksanakan demi mewujudkan ketahanan pangan nasional.Fri-35 (yusti)

Artikel Terkait