Mengeksplorasi Dadih


 

Setelah 24 jam, susu sudah menggumpal, tapi masih encer.  Saat itu rasanya mulai asam.  Produk ini disebut dadiah jalang (bahasa Minang, artinya dadih encer).  Jika dibiarkan terus, dadih semakin kental.  Pada hari kedua (setelah 48 jam), dadih encer berubah menjadi curd seperti gel putih yang semakin kental.  Jika dibiarkan sehari lagi, curd semakin mengeras dan tidak akan tumpah jika tabungnya dibalik. 
 
Permukaan atas dari dadih di dalam tabung bambu tampak berwarna kuning jika dadih telah berumur dari 3 hari.  Kadang-kadang tampak pertumbuhan kapang. Biasanya dadih tetap dikonsumsi setelah bagian di permukaan tersebut dibuang.
Umur dadih berkisar 3 sampai 4 hari.  Di dataran tinggi yang suhu udaranya lebih dingin, dadih dapat disimpan sampai 4 hari di suhu kamar.  Di dataran rendah yang lebih hangat, dadih umur simpan hanya 3 hari.
Tidak seperti yoghurt, fermentasi dadih tidak memerlukan starter.  Diduga, mikroba asam laktat yang berperan dalam fermentasi adalah cemaran dari wadah fermentasi (bambu), udara, wadah penampung perahan susu, dan ambing kerbau itu sendiri.
 
Rasa dadih adalah asam. Nilai pH-nya di bawah 5 dengan kandungan asam 1,5-2% (tergantung umur dadih).  Karena dalam proses pembuatannya tidak ditambah dengan bahan apapun, maka kandungan zat gizinya mirip dengan susu kerbau sebagai bahan bakunya, misalnya protein sekitar 7%, dan lemak 8%.  Kandungan zat gizi dadih bervariasi tergantung kepada bahan bakunya.
 
Dimana diproduksi
Dadih adalah salah satu pangan tradisional di Sumatera Barat.  Pembuatan dadih dijumpai di dataran tinggi di lima kabupaten, yaitu Agam, Tanah Datar, Lima Puluh Kota, Sijunjung dan Solok. 
Pembuatan dadih selalu dilakukan oleh peternak yang memiliki kerbau lumpur betina yang sedang laktasi.  Kerbau tersebut dapat diperah selama 5-7 bulan dengan produksi susu antara 1 dan 2 liter per hari.  Kerbau yang sedang laktasi dan diperah susunya tidak diberi pakan tambahan dan dikandangkan secara khusus.  Kerbau yang diperah susunya mendapat sedikit perlakuan khusus, yaitu dimandikan setiap sore setelah berkubang di dalam lumpur. 
 
Wadah fermentasi
Jenis bambu untuk wadah - dalam istilah lokal, adalah bambu haur atau bambu talang yang berdiameter 5-8 cm dengan tebal sekitar 1 cm.  Kebanyakan, bambu yang dipakai sebagai wadah terdiri dari satu ruas dengan tinggi sekitar 20 cm.  Batas ruas menjadi dasar dari wadah bambu ini.  Pemotongan diusahakan agar batas ruas berada pada posisi 1/3 sampai 1/2  dari panjang bambu.  Kadang-kadang kulit luar bambu dibuang sehingga tabung bambu tampak putih.  Setiap wadah diisi susu dengan tinggi antara 10 -12 cm, atau dengan volume antara ¼ dan ½ liter. Di Kabupaten Solok, ada juga wadah bambu yang terdiri lebih dari satu ruas dengan volume susu lebih dari satu liter (Hasbullah, Aisman, Zuki, Azima dan Novizar; 2000).
 
Bambu yang dipilih untuk wadah adalah yang sudah tua. Sayuti (1993) mengungkapkan bahwa bambu tua lebih kering, sehingga menyerap air dari susu lebih banyak, sehingga kadar air dadih lebih rendah, dan selanjutnya mutu dadih lebih baik.  Ruas bambu yang telah dipotong sering tidak langsung dipakai, tapi dijemur dulu sehari.  Tidak ada tempat khusus untuk menjemur. Biasanya tabung ditaruh berdiri miring dengan penyangga di atas tanah pada ruang terbuka. Setelah dijemur, serbuk pada dinding bagian dalam bambu lebih mudah dilepas dengan menghadapkan mulut tabung ke bawah, kemudian digoyangkan. Jika tidak segera dipakai, tabung ini ditaruh di dapur atau dimana saja sebelum digunakan.
Banyak yang menduga bahwa bambu merupakan sumber bakteri asam laktat untuk fermentasi susu kerbau menjadi dadih. Akan tetapi ada temuan menarik oleh Hasbullah et al., (2000).  Di Kabupaten Solok, kadang-kadang dadih dijual tidak di dalam tabung bambu, tapi di dalam kantong plastik. Dadih ini bukan dipindahkan dari tabung bambu.  Susu segar hasil perahan dimasukkan ke dalam kantong plastik, kemudian disimpan seperti menyimpan tabung bambu. Seperti menggunakan tabung bambu, dadih juga terbentuk di dalam kantong plastik ini.  Dadih di dalam kantong plastik ini tidak diproduksi rutin, tapi diproduksi jika ada yang pesan.
 
Harga Jual
Dadih dijual dengan harga berkisar antara Rp 10.000,00 dan 15.000,00 tergantung kepada volume nya. Dadih di dalam tabung bambu yang ruasnya lebih dari satu dijual dengan harga lebih tinggi. 
 
Aspek kuliner
Rasa dadih asam.  Ada juga yang mencium bau amis pada dadih.  Di Sumatera Barat, jarang dadih dikonsumsi apa adanya.  Dadih dapat dikonsumsi sebagai lauk. Cara menyiapkannnya adalah dengan menambahkan irisan bawang segar, irisan cabe sobekan daun sirih dan sedikit garam ditambahkan ke dadih. Makanan seperti ini disebut sebagai anyang dadih.
 
Amping dadih adalah makanan kreasi kuliner tradisonal yang dibuat dari campuran dadih, sirup gula merah, emping ketan yang telah dilunakkan dengan air panas, dan parutan kelapa. Bahan penyusun tersebut dicampur ketika akan disajikan. Mula-mula 2 sendok emping dimasukkan ke dalam mangkok, kemudian di atasnya ditambah 10 sendok dadih, 1 sendok kelapa parut dan 5 sendok sirup gula. Ketan dadih sedikit berbeda, dimana emping ketan diganti dengan nasi ketan dalam penyiapannya. Sedikit restoran atau warung minum di Sumatera Barat yang menyediakan makanan ini. 
Harga jual amping dadih berkisar Rp 5.000,00 sampai 10.000,00 setiap porsi, tergantung kepada restoran atau warung minum yang menjualnya.
 
Dadih dapat dicampur dengan sari atau bubur buah. Cara penyiapannya sederhana. Misalnya, dadih, potongan buah dan gula dicampur dan dihaluskan dengan blender.  Seperti yoghurt, banyak variasi minuman dan makanan bisa dibuat dari dadih. Sayang, sampai sekarang, minuman kreasi tersebut belum diminati oleh masyarakat.
 
Aspek Mikrobiologi
Mikroba yang terdapat pada dadih telah dilaporkan oleh Masykuri (1993). Pada dadih ditemukan Enterobacter aerogenes yang memfermentasi laktosa menjadi glukosa,  Bacillus subtilis yang mendegradasi kasein, dan Candida blankii yang memfermentasi glukosa menjadi asam.  Dua mikroba terakhir dianggap berkontribusi terhadap pembentukan curd.  Dari dadih juga telah diisolasi bakteri asam laktat (BAL) Lactobacillus plantarum (Sirait, Cahyadi, Pangabean dan Putu; 1995).  BAL ini kemudian digunakan dalam komposisi inokulum untuk fermentasi susu sapi seperti yang dilakukan oleh Taufik (2005) dan Sunarlim, Setiyanto, Poeloengan (2007) . Produk yang dihasilkan, karena mirip dadih, mereka sebut sebagai dadih susu sapi.
 
Penutup
Karena mengandung mikroba hidup, sering disebut sebagai pangan probiotik. Tapi sejauh ini dadih belum melewati pengujian sehingga layak disebut sebagai pangan mengandung mikroba hidup yang dapat memberi efek baik bagi mikroflora baik di dalam saluran pencernaan secara konsisten dalam jangka panjang.
 
Jika dadih didefinisikan sebagai makanan tradisional, maka yang dimaksud adalah dadih susu kerbau.  Walaupun demikian, berbagai produk fermentasi yang dibuat dari susu sapi saja, atau campuran dengan bahan lain (misalnya susu kedelai) juga diberi embel-embel dadih pada namanya.  Produk yang pada namanya terdapat kata dadih tersebut dibuat dengan menggunakan mikroba yang diisolasi dari dadih, atau menggunakan dadih sebagai starter.  Produk seperti ini diantaranya telah dikembangkan oleh Yuleiny (1997), Sari (1998), dan Sari (2002).
 
Tantangan industrialisasi dadih, diantaranya pada penyediaan bahan baku susu kerbau.  Sejauh ini, kerbau yang dipelihara penduduk adalah kerbau lumpur yang rendah produksi susunya. Kerbau ini dipelihara sebenarnya sebagai ternak pekerja, bukan penghasil susu maupun daging. 
 
Di luar penyediaan bahan baku, adalah aspek teknis produksi dan pemasaran. Menurut hemat penulis, teknis produksi dadih asli (dari susu kerbau tanpa starter) atau dadih kreasi baru mudah dikembangkan dan dikuasai. Tapi tantangan besar adalah pada pemasaran. Konsumen, terutama generasi muda perlu dirayu ekstra intensif untuk mengkonsumsi dadih.  Apapun gagasan mengenai pengembangan dadih, masyarakat di Sumatera Barat, dan juga daerah lain yang juga menghasilkan dadih (misalnya Sumatera Utara dan Jambi), tetap semakin tidak mengenal dadih.
 
 
Oleh : Hasbullah
           Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian, 
           Universitas Andalas Padang
 
(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Juni 2012)

 

Artikel Lainnya

  • Mar 08, 2021

    Aplikasi HFCS pada Produk Pangan

    Dibandingkan dengan sukrosa, HFCS memiliki profil tingkat kemanisan yang lebih tinggi, profil rasa yang lebih stabil, dan memiliki kelarutan yang tinggi sehingga sangat mudah diaplikasikan pada berbagai spektrum produk pangan. HFCS secara tradisional biasa digunakan untuk minuman (kopi, jus, minuman ringan, minuman energi, minuman isotonik, varian teh, dan minuman jeli), tetapi dalam perkembangannya, HFCS juga digunakan untuk aplikasi lainnya seperti snack dan bakeri (pastri, selai, isian buah, dan buah dalam kaleng), serta produk dairy (es krim). ...

  • Feb 28, 2021

    Penjaminan Keamanan Pangan Produk UKM

    Untuk menjamin keamanan suatu produk pangan, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di bidang pangan disarankan untuk menerapkan sistem jaminan mutu keamanan pangan yang bersifat sistematis dan didasarkan pada prinsip-prinsip yang ditujukan untuk mengidentifikasi adanya bahaya yang mungkin timbul pada setiap tahap dalam rantai produksi pangan. Adanya sistem tersebut dimaksudkan sebagai suatu upaya pengendalian demi mencegah timbulnya ancaman yang mungkin terjadi. ...

  • Feb 27, 2021

    Tantangan Formulasi Plant-based Meat

    Semenjak pasar vegan dan vegetarian terus bermunculan, permintaan akan produk plant-based meat juga mengalami peningkatan. Salah satu alasan paling mendasar dari konsumsi plant-based meat bagi pelaku vegan dan vegetarian berkaitan dengan aspek etik, keberlanjutan, serta kesehatan. Belakangan, tren mengonsumsi plant-based meat juga semakin meluas pada konsumen nonvegan dan vegetarian seperti kelompok fleksitarian. Kelompok ini memiliki pola konsumsi yang mengurangi pangan hewani dan memperbanyak konsumsi pangan nabati. ...

  • Feb 26, 2021

    Revisi Prinsip Umum Higiene Pangan Codex (CXC 1-1969)

    Di tahun 1969 CCFH mengeluarkan dokumen CXC 1-1969 yang berjudul General Principles of Food Hygiene yang dilengkapi dengan Lampiran tentang Codex Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) atau Sistem Analisa Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis. Sejak diadopsi pertama kali pada tahun 1969, CXC 1-1969 telah mengalami beberapa kali revisi, di mana revisi terakhir dilakukan pada tahun 2013. Dokumen ini dijadikan kiblat manajemen keamanan pangan dan tepat di tahun 2020 dokumen CXC 1-1969 direvisi. Karena itu, baik industri maupun institusi pemerintahan yang mengatur sistem manajemen keamanan pangan tentu saja harus menyesuaikan berbagai perubahan dalam revisi dokumen CXC 1-1969 ini. ...

  • Feb 25, 2021

    Logo Pilihan Lebih Sehat pada Minuman Siap Konsumsi

    Minuman siap konsumsi mencakup antara lain susu plain, susu rasa, susu berperisa, minuman susu, minuman mengandung susu, minuman susu fermentasi, minuman cokelat, minuman kedelai, sari kedelai, sari buah, sari sayur, minuman berperisa berkarbonat, minuman berperisa tidak berkarbonat, minuman sari kacang hijau, dan minuman botanikal/minuman rempah. Profil gizi untuk minuman siap konsumsi harus memenuhi persyaratan kandungan gula maksimum 6g/100 ml. Gula dihitung sebagai total monosakarida dan disakarida, tidak termasuk laktosa. Selain itu, pencantuman ini tidak boleh menggunakan BTP Pemanis sebagai upaya mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk dapat mengurangi kesukaan untuk konsumsi yang manis. ...