Proses Terbentuknya Biofilm oleh Mikroorganisme



Proses terbentuknya biofilm pada permukaan padat telah dijelaskan dalam berbagai literatur.  Pada awalnya bakteri dapat menempel secara acak dan dapat balik (reversibel) yang antara lain dapat dipengaruhi oleh adanya senyawa yang teradsorpsi pada permukaan, tumbukan secara acak,  motilitas bakteri, porositas permukaan, reologi aliran dan lain-lain.  Penempelan dapat balik ini dapat berkembang menjadi penempelan tak dapat balik (irreversible) apabila terjadi ikatan kimiawi yang makin kuat antara bakteri dan permukaan, seperti ikatan hidrogen, hidrofobik, ikatan kovalen dan sebagainya.  

Hal ini menyebabkan pertumbuhan bakteri dan produksi polisakarida ekstraseluler yang memerangkap bakteri lainnya ke dalam komunitas biofilm.  Biofilm yang terbentuk dapat mengalami pelepasan berupa sloughing atau erosion yang dapat terjadi karena beberapa sebab, antara lain meningkatnya kandungan gula dalam fase cair. Resultan antara jumlah bakteri yang menempel dan yang melepaskan diri itulah yang tercermin sebagai densitas atau populasi biofilm. Donlan (2002) merangkum berbagai faktor yang penting yang berpengaruh terhadap penempelan sel bakteri dan pembentukan biofilm. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari sel mikroorganisme, permukaan padat maupun aliran cairan yang bersinggungan dengan permukaan padat tersebut.

Lebih lengkapnya silahkan baca di FOODREVIEW INDONESIA edisi "Food Safety By Design", November 2017

Artikel Lainnya

  • Jan 21, 2021

    Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan 2021

    Saat ini digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi bisnis dan industri. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robot mampu melaksanakan berbagai tugas lebih cepat dan lebih baik (presisi) dari pada manusia. Walaupun atmosfir digitalisasi di industri pangan sudah terasa sejak dicanangkannya program “Making Indonesia 4.0” beberapa tahun lalu, namun penerapannya masih belum memuaskan. Diperkirakan baru sekitar 5-10% industri pangan yang sudah melaksanakan program digitalisasi. Selebihnya baru pada tahap pengenalan (familiarisasi) atau bahkan belum mengenal digitalisasi sama sekali. Padahal kalau kita bandingkan dengan luar negeri, negara kita masih jauh tertinggal dalam proses digitalisasi. ...

  • Jan 20, 2021

    Kinerja Pangan Strategis

    Dari sisi suplai, sektor pertanian mencatat pertumbuhan positif dan menjadi bantalan (cushion) di tengah resesi ekonomi Indonesia. Sektor pertanian tumbuh 2,19 dan 2,15% (y-on-y) dan pada Q2 dan Q3- 2020. ...

  • Jan 19, 2021

    Pola Konsumsi Masa Pandemi

    Sepanjang tahun 2020, komponen sisi pengeluaran seluruhnya mengalamai kontraksi, kecuali pengeluaran pemerintah yang mengalami pertumbuhan 9,76% (y-o-y) pada Q3-2020. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga masih terkontraksi minus 4,04%, pengeluaran konsumsi LNPRT (Lembaga non-profit yang melayani rumah tangga) juga minus 2,12%, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) negatif 6,48%, ekspor negatif 10,82%, dan impor lebih parah sampai minus 21,86%. ...

  • Jan 18, 2021

    Industri Pangan 2021

    Pandemi virus korona di tahun 2020 telah menyebabkan perubahan di berbagai lini kehidupan, seperti cara berbelanja, bersosialisasi, belajar hingga hiburan dan lainnya. Industri pangan misalnya, harus segera menyesuaikan dengan kondisi yang tidak menentu untuk tetap dapat menyediakan kebutuhan pangan bagi konsumennya (yang lebih memilih dan sadar mencari produk-produk untuk kesehatan dan kebugaran). ...

  • Des 30, 2020

    Tren Snack Lebih Menyehatkan

    Produk snack bercita rasa asin-gurih (savory snacks) sampai saat ini masih banyak diminati dan mengisi pasar-pasar yang ada. Pertumbuhan ekonomi dan pergeseran demografis menciptakan pemintaan yang baru untuk produk dengan pengalaman rasa yang lebih banyak di negara Asia. Pasar konsumen yang muncul di Asia lebih memilih produk dengan flavor yang kuat dengan karakter eksotis yang lekat.  ...