Regulasi Informasi Nilai Gizi Produk Pangan



Label pangan menjadi media yang memuat informasi tentang nilai gizi yang terdapat dalam produk pangan. Informasi yang efektif pada label dapat membantu konsumen dalam memilih pangan yang sehat, sehingga dapat mendukung pola diet yang sehat. Seperti yang diketahui, informasi pada label dapat mempengaruhi daya beli konsumen. Atau dengan kata lain, sistem pelabelan yang efektif tentang nilai gizi yang terkandung dalam produk pangan tersebut akan memudahkan konsumen dalam memilih pangan dengan nilai gizi yang cukup sesuai dengan kebutuhan. Oleh karenanya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 22 Tahun 2019 tentang Informasi Nilai Gizi (ING) pada Label Pangan Olahan. Kehadiran label gizi ini masyarakat bisa memilih pangan yang mendukung pola konsumsi yang sehat sesuai dengan kebutuhannya. 

"Label ING diluncurkan dalam dua jenis yakni desain monokrom dan logo "Pilihan Lebih Sehat". Desain monokrom hanya berisi highlight informasi nilai gizi dari beberapa zat gizi yang terkait dengan PTM seperti energi, lemak, lemak jenuh, gula, dan garam, sehingga lebih mudah dipahami," terang Direktur Standardisasi Pangan Olahan BPOM, Dra. Sutanti Siti Namtini, Apt, Ph.D dalam Sosialisasi Peraturan Kepala Badan POM RI untuk Industri Pangan yang diselenggarakan oleh GAPMMI di Jakarta pada 10 Oktober 2019.

Sedangkan untuk logo "Pilihan Lebih Sehat", Sutanti menuturkan bahwa pencantuman logo tersebut berarti produk yang bersangkutan telah memenuhi kriteria untuk menjadi pilihan produk dengan kandungan yang sehat berdasarkan nilai gizi yang dipersyaratkan. "Dengan kata lain, produk tersebut memiliki nilai lebih dibandingkan produk sejenis yang dikonsumsi dalam jumlah yang wajar," tambah Sutanti.

Sutanti juga menjelaskan, adalanya regulasi tentang ING tersebut dilakukan untuk mengurangi permasalahan seperti kekurangan gizi dan penyakit tidak menular (PTM) seperti kanker, stroke, diabetes, dan hipertensi. Produsen pangan juga sudah dapat mendaftarkan produknya untuk mendapatkan label tersenut sejak 21 Agustus 2019. Fri-37

Artikel Lainnya

  • Jan 23, 2021

    Strategi Percepatan Perapan Kecerdasan Buatan

    Penerapan dan adopsi teknologi digital maju seperti AI di industri pangan masih belum sesuai harapan. Banyak industri pangan saat ini berada pada posisi wait and see. Jika pesaingnya menerapkan AI, barulah dia juga akan menerapkan AI. ...

  • Jan 22, 2021

    Inovasi Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan

    Berbagai inovasi penggunaan kecerdasan buatan untuk pangan telah dilakukan di berbagai negara maju. Sebagai contoh, Majalah Forbes (April 2020) menyajikan artikel yang berjudul “This AI Camera Can Help Restaurants Show that Their Food is Safe from Coronavirus”. Penemuan mutakhir ini merupakan terobosan yang cukup nyata dalam industri pangan. Alat ini mampu memastikan bahwa makanan yang dihidangkan terbebas dari virus korona karena telah dipersiapkan dengan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini dimungkinkan karena pembuatan makanan dipantau lewat kamera yang menggunakan algoritma cerdas dan teknik image recognition. ...

  • Jan 21, 2021

    Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan 2021

    Saat ini digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi bisnis dan industri. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robot mampu melaksanakan berbagai tugas lebih cepat dan lebih baik (presisi) dari pada manusia. Walaupun atmosfir digitalisasi di industri pangan sudah terasa sejak dicanangkannya program “Making Indonesia 4.0” beberapa tahun lalu, namun penerapannya masih belum memuaskan. Diperkirakan baru sekitar 5-10% industri pangan yang sudah melaksanakan program digitalisasi. Selebihnya baru pada tahap pengenalan (familiarisasi) atau bahkan belum mengenal digitalisasi sama sekali. Padahal kalau kita bandingkan dengan luar negeri, negara kita masih jauh tertinggal dalam proses digitalisasi. ...

  • Jan 20, 2021

    Kinerja Pangan Strategis

    Dari sisi suplai, sektor pertanian mencatat pertumbuhan positif dan menjadi bantalan (cushion) di tengah resesi ekonomi Indonesia. Sektor pertanian tumbuh 2,19 dan 2,15% (y-on-y) dan pada Q2 dan Q3- 2020. ...

  • Jan 19, 2021

    Pola Konsumsi Masa Pandemi

    Sepanjang tahun 2020, komponen sisi pengeluaran seluruhnya mengalamai kontraksi, kecuali pengeluaran pemerintah yang mengalami pertumbuhan 9,76% (y-o-y) pada Q3-2020. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga masih terkontraksi minus 4,04%, pengeluaran konsumsi LNPRT (Lembaga non-profit yang melayani rumah tangga) juga minus 2,12%, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) negatif 6,48%, ekspor negatif 10,82%, dan impor lebih parah sampai minus 21,86%. ...