
Oleh Victoria Valentina
Senior Regulatory Affairs Manager PT Frisian Flag Indonesia
Memasuki 2026, industri pangan Indonesia menghadapi percepatan transformasi yang dipicu oleh digitalisasi rantai pasok, perubahan perilaku konsumen, serta meningkatnya perhatian terhadap kesehatan, pangan fungsional, dan gaya hidup sehat (wellness). Produk pangan kini tidak lagi dinilai semata dari rasa dan harga, tetapi juga dari nilai gizi, transparansi informasi, serta keberlanjutan proses produksi di sepanjang rantai pasok. Dalam situasi ini, pelaku industri dituntut untuk bergerak lebih cepat dalam berinovasi dan merespons dinamika pasar yang terus berubah. Namun percepatan ini juga menghadirkan tantangan baru.
Pelaku industri, asosiasi, hingga regulator semakin menyadari bahwa tantangan utama tidak semata pada penguasaan teknologi, melainkan pada kemampuan organisasi menjaga konsistensi, integritas, dan kepatuhan di tengah perubahan yang berlangsung semakin cepat.
Tantangan ini semakin menguat seiring meningkatnya perhatian konsumen terhadap isu kesehatan dan tren wellness. Dengan demikian, keunggulan industri tidak hanya ditentukan oleh kecepatan beradaptasi, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan publik serta memastikan keberlanjutan sistem pangan (Saryatmo C. Sukhotu, 2021; Mayang Mangurai et al., 2024).
Kecepatan: realitas baru yang tidak bisa dihindari
Rantai pasok pangan kini bergerak dalam siklus yang lebih pendek. Pengembangan produk memerlukan data real-time. Platform digital menuntut respons cepat. Sementara itu, perubahan regulasi datang lebih sering, lebih rinci, dan lebih ketat (Saryatmo C Sukhotu, 2021; Mayang Mangurai et al., 2024).
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saat ini tengah merumuskan dan mengharmonisasikan kebijakan yang dikenal sebagai Nutri-Level atau Nutri-Grade untuk pelabelan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada produk pangan olahan. Sistem ini dirancang memberi tingkat (Level A, B, C, D) berdasarkan jumlah GGL dalam produk. Sistem Nutri-Level bertujuan membantu konsumen memahami kualitas zat gizi suatu produk secara cepat dan jelas, terutama untuk membatasi konsumsi GGL berlebih yang terkait dengan penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung (Badan Pengawas Obat dan Makanan [BPOM], 2025).
Perubahan cepat juga terjadi di kanal distribusi digital. BPOM aktif memonitor penjualan produk melalui internet — termasuk e-commerce, loka pasar, media sosial, dan tautan penjualan daring— melalui patroli siber dan kerja sama dengan platform digital. (Direktorat Siber BPOM, 2025).
-
Sepanjang 2025, puluhan ribu tautan konten ilegal (obat, kosmetik, makanan/minuman tanpa izin BPOM) diajukan untuk takedown dan sebagian besar berhasil dinonaktifkan (Direktorat Siber BPOM, 2025).
-
Dalam satu periode pengawasan, ditemukan puluhan ribu tautan pelanggaran yang terus diproses bersama platform loka pasar (Direktorat Siber BPOM, 2025).
- Dalam konteks ini, kecepatan tanpa koordinasi internal dan tanpa pemahaman aturan terbaru justru dapat menjerumuskan perusahaan pada risiko reputasi dan risiko hukum.
Kepercayaan: aset yang menentukan nafas panjang industri
Industri pangan hidup dari kepercayaan publik. Sekali tercoreng, pemulihannya bisa sangat panjang. Karena itu, tahun 2026 membawa satu pesan besar: kepercayaan kini dibangun bukan hanya karena nama besar jenama, tetapi juga kualitas produk dan tata kelola perusahaan.
Regulator menegaskan arah yang sama. Melalui Peraturan BPOM No. 16 Tahun 2025, masyarakat bukan lagi sekadar penerima informasi, tetapi diberi ruang formal untuk ikut mengawasi keamanan pangan. Artinya, sumber tekanan reputasi perusahaan kini datang dari dua arah: regulator dan konsumen (Badan Pengawas Obat dan Makanan [BPOM], 2025).
Di saat yang sama, pemerintah memulai implementasi kebijakan wajib halal terutama untuk produk pangan, memperkuat kredibilitas produk dalam negeri sekaligus meningkatkan standar pemrosesan pangan dari hulu ke hilir. Langkah lain seperti penguatan kebijakan jaminan produk halal— yang menekankan ketertelusuran bahan baku, pemisahan fasilitas produksi, serta pengawasan rantai pasok hingga distribusi—menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga integritas halal sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen. Kepercayaan, dalam konteks baru ini, bukan hanya janji kepada konsumen; ia adalah indikator kedewasaan industri (BPJPH, 2025).
Keberlanjutan: pilar baru dalam arsitektur regulasi
Jika beberapa tahun lalu keberlanjutan dianggap sebagai nilai tambah, kini ia berkembang menjadi kewajiban strategis. Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan agenda transformasi sistem pangan nasional mulai menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari kebijakan pangan (Bappenas, 2025; Badan Pangan Nasional, 2025; GAIN, 2024; CIPS, 2024).
Arah tersebut mencakup:
- Pengurangan kehilangan pangan (food loss) and limbah pangan (waste),
-
Perbaikan praktik budidaya berbasis agroekologi,
-
Model ekonomi sirkular dalam industri pangan, optimalisasi lahan marginal dan regenerasi petani,
-
Penguatan pangan lokal dan diversifikasi sumber karbohidrat,
-
Pertanian cerdas iklim (World Bank, 2021; Shofiyati et al., 2024). Keberlanjutan bukan hanya strategi reputasi; ia kini menjadi strategi bertahan.
Pelajaran penting bagi para pemimpin industri pangan
Era 4.0 tidak lagi mengizinkan pemimpin untuk sekadar adaptif. Mereka harus visioner sekaligus operasional. Tidak cukup cepat; harus akurat. Tidak cukup patuh; harus proaktif. Dan tidak cukup responsif; harus mampu membangun sistem yang dapat menjaga integritas tanpa menghambat inovasi (Jaafar et al., 2026; Mrugalska C Ahmed, 2021; Porkodi, 2024; Örnek C Camci, 2024).
Ada tiga tuntutan kepemimpinan yang semakin relevan tahun ini:
- 1. Memastikan organisasi siap berlari cepat—tanpa kehilangan arah
Digitalisasi hanya akan efektif apabila seluruh tim memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan, prioritas, dan peran masing-masing. Tanpa keselarasan tersebut, percepatan justru berpotensi menimbulkan friksi dan inefisiensi internal.
-
2. Menjadikan kepatuhan sebagai bagian dari budaya organisasi, bukan sekadar daftar pemenuhan
Di tengah pengawasan publik yang semakin terbuka dan partisipatif, setiap keputusan dan tindakan perusahaan kini berada dalam sorotan. Kepatuhan yang bersifat reaktif tidak lagi memadai. -
3. Menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi strategi bisnis
Pemimpin yang mampu menyeimbangkan kinerja finansial, keberlanjutan lingkungan, dan nilai sosial akan memiliki daya tahan dan relevansi jangka panjang.
Tahun 2026 menandai babak baru industri pangan Indonesia—bukan hanya soal bergerak lebih cepat, tetapi tentang membangun kepercayaan yang kokoh dan keberlanjutan yang memastikan industri ini tetap relevan di masa depan. Perusahaan yang mampu memadukan ketiganya—kecepatan, kepercayaan, dan keberlanjutan—akan menjadi penentu arah industri pangan di masa mendatang. Dan bagi para pemimpin, inilah momentum untuk menunjukkan karakter kepemimpinan yang bukan hanya responsif terhadap perubahan, tetapi mampu membentuk masa depan pangan Indonesia yang lebih aman, transparan, dan berdaya saing global.
Referensi
http://foodreview.co.id/pdf/Ref.%20Industri%20Pangan%204.0.pdf
