Pengembangan Produk Bakeri Tinggi Serat


Oleh Widya Dwi Rukmi Putri
Ketua Patpi Cabang Malang Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, Universitas Brawijaya

Produk bakeri saat ini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari pola konsumsi masyarakat karena praktis, tersedia dalam banyak ukuran, bentuk, maupun rasa. Roti seringkali digunakan sebagai menu pokok, makanan selingan atau jajanan. Metode pemasaran, pengemasan dan penyajian semakin memperluas kebutuhan konsumen akan produk bakeri ini.

Perkembangan perhatian konsumen saat ini adalah produk-produk pangan yang lebih menyehatkan sehingga inovasi produk juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan konsumen tersebut. Produk bakeri dengan kualitas World Health Organization (WHO) juga menekankan bahwa asupan serat pangan alami paling sedikit 25 g per hari bagi orang dewasa. Hal ini memberikan ruang yang terbuka bagi reformulasi produk bakeri, akan sensori disukai dan tinggi serat adalah salah satu produk menyehatkan yang saat ini menjadi pertimbangan besar bagi konsumen dalam membeli. tetapi label sehat harus didukung oleh komposisi produk secara keseluruhan dan bukan hanya dari satu ingridien unggulan. Selain itu atribut sensori tetap menjadi salah satu yang mendorong konsumen untuk memilih dan membeli berulang. Tantangan teknologi adalah meningkatkan nilai kesehatan dengan kaya serat tanpa menurunkan kualitas produk bakeri yang lembut, elastis dengan warna dan penampilan yang menyenangkan.

Pentingnya produk bakeri tinggi serat
Serat pangan berperan dalam mempertahankan fungsi saluran pencernaan dan keteraturan pengeluaran sisa metabolisme. Secara umum, serat dapat difermentasi oleh mikrobiota usus dan menghasilkan metabolit yang memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya adalah asam lemak rantai pendek (short chain fatty acid), seperti asetat, propionat dan butirat. Serat larut yang memiliki kemampuan membentuk viskositas tinggi akan memperlambat pengosongan lambung dan memodulasi penyerapan zat gizi, sedangkan serat yang tidak larut akan membantu meningkatkan massa sisa pangan tidak tercerna yang dikeluarkan dalam bentuk feses. Konsumsi serat yang memadai akan membantu meningkatkan rasa kenyang, mengendalikan asupan gizi dan menjaga kadar gula darah setelah makan, serta membantu mempertahankan kolesterol dalam darah. Efek fisiologis tersebut tergantung pada jenis serat, struktur, kelarutan, viskositas, fermentabilitas, jumlah yang dikonsumsi dan pola makan secara keseluruhan

Berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) No 1 Tahun 2022, klaim tinggi atau kaya serat pada produk olahan adalah minimal mengandung 6 g/100g bahan. Produk bakeri dapat menjadi salah satu media yang potensial untuk membantu meningkatkan konsumsi serat, karena roti, biskuit, kue, kukis, muffin dan banyak lagi jenisnya menjadi pangan yang banyak dikonsumsi harian baik sebagai makanan pokok atau makanan selingan. Kandungan serat produk bakeri dapat ditingkatkan melalui penggunaan tepung berkadar serat tinggi ataupun sumber serat tambahan lainnya, sehingga konsumsi produk bakeri tidak hanya memberikan energi tetapi juga berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan serat harian. Penambahan serat pada produk bakeri perlu dikembangkan dengan memperhatikan komposisi gizinya secara keseluruhan, karena memiliki efek peningkatan kebutuhan air dalam adonan, mengganggu pembentukan jaringan struktur, menurunkan volume serta menghasilkan tekstur yang lebih padat atau kasar. Penyesuaian formulasi perlu dilakukan sehingga produk bakeri tinggi serat tetap memiliki karakteristik yang diinginkan konsumen.

Sumber serat sebagai ingridien roti
Penambahan serat pada produk bakeri dapat membuka peluang pemanfaatan komoditas lokal dan bahkan hasil samping pangan, seperti bekatul, dedak, ampas ekstraksi sari buah, kulit buah yang aman dan juga hasil pengolahan sayuran. Kondisi ini berpotensi mengurangi limbah, memperluas pasar komoditas lokal dan mendorong diferensiasi produk, walaupun demikian untuk penggunaan hasil samping harus memenuhi persyaratan keamanan, standardisasi, stabilitas produk dan penerimaan sensoris. Beberapa sumber serat potensial sebagai ingridien produk bakeri diantaranya adalah:

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait

FOODREVIEW INDONESIA

Digital Library