
Pertumbuhan industri pangan Indonesia pada 2011 ditutup pada angka 9,19%, lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan sebelumnya yang hanya 7,92%. Hal ini menunjukkan, bahwa prospek industri pangan di Indonesia cukup cerah. Bahkan, selama lima tahun terakhir industri pangan selalu menunjukkan tren pertumbuhan positif dan mencatatkan rekor pertumbuhan tertinggi kedua setelah industri baja dan logam.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, dalam Seminar FOODREVIEW INDONESIA yang bertajuk "Prospek Industri Pangan 2012" pada 23 Februari lalu di IPB International Convention Center Bogor. Dalam acara yang juga didukung oleh SEAFAST Center IPB tersebut, Adhi juga mengungkapkan bahwa nilai ekspor produk pangan juga meningkat 54.8%, dan untuk minuman serta tembakau sebesar 18.9%. Namun, juga perlu diperhatikan, bahwa impor produk pangan juga meningkat secara signifikan, dimana 48.81 berasal dari ASEAN dengan kontribusi terbesar dari Malaysia (sebesar 23.69%)
Profil industri pangan Indonesia didominasi oleh skala rumah tangga. "Hanya saja, kontribusi dari industri rumah tangga dan kecil masih kurang dari 15%," tutur Adhi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan kemampuan mereka dalam berkompetisi di pasar global.
Setidaknya terdapat 4 isu utama dalam pengembangan industri pangan di Indonesia, yakni:
1. Kendala dalam melakukan bisnis, seperti birokrasi berbelit, korupsi, infrastruktur yang tidak memadai, dan lain-lain.
2. Keberpihakan kebijakan pemerintah dalam mendukung peningkatan daya saing industri.
3. Potensi kekayaan sumber daya alam untuk diolah lebih lanjut. Tetapi saat ini, sebagian besar bahan baku masih diperoleh dari impor.
4. Daya saing (peringkat 46 dari 142 negara) dan logistik (peringkat 75 dari 155 negara).
Adhi tetap optimis bahwa dengan peningkatan standar dan mutu dan dukungan dari stakeholder terkait, partisipasi industri rumah tangga dan kecil dapat ditingkatkan. Apalagi Indonesia merupakan pasar yang besar, ditambah lagi pengeluaran tingkat rumah tangga untuk pangan yang mencapai 51,4%. @hendryfri

