Tantangan dan Peluang Mengembangkan Probiotik pada Produk Non-Susu


Untuk menghadapi tantangan pasar yang semakin kompetitif, pangan fungsional harus mampu bersaing dengan produk lain yang kini juga berdaya jual tinggi, seperti produk pangan rendah lemak, rendah garam, rendah kalori, rendah gula, maupun produk pangan organik.  Oleh karena itu, klaim adanya berbagai manfaat kesehatan dalam pangan fungsional harus dikomunikasikan dan diperkenalkan dengan baik untuk menarik konsumen, selain itu produk juga harus memiliki rasa yang disukai, praktis, dan terjangkau.
 
Probiotik diartikan sebagai mikroorganisme hidup yang saat dikonsumsi dengan jumlah yang cukup tetap hidup sampai mencapai saluran pencernaan serta memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh melalui keseimbangan mikrobiota (FAO/WHO, 2001).  Probiotik sebagai salah satu komponen pangan fungsional juga telah diadopsi oleh BPOM, melalui SK yang ditetapkan Januari 2005, tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Pangan Fungsional.  Di dalam peraturan tersebut yang dimaksud dengan pangan fungsional adalah pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen fungsional yang berdasar kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan.  
 
Secara umum, probiotik ditujukan untuk memberikan kesehatan saluran pencernaan melalui keseimbangan mikrobiota dan stimulasi fungsi imun. Namun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa probiotik memiliki efek pada disorder gastrointestinal maupun extraintestinal, termasuk irritable bowel syndrome (IBS), inflammatory bowel disease (IBD), dan infeksi vagina.  Beberapa probiotik juga telah diteliti lebih lanjut kaitannya dengan atopic eczema, rheumatoid arthritis, dan liver cirrhosis, sedang untuk penurunan kolesterol belum sepenuhnya terbukti.
 
Pasar global untuk probiotik secara keseluruhan (sebagai ingridien, suplemen atau makanan) adalah sebesar US $ 14,9 milyar pada tahun 2007 dan mencapai US $ 16 milyar pada tahun 2008.  Dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 4.3%, diperkirakan target penjualan pada tahun 2013 mencapai US $ 19,6 milyar (Food Processing 2009).  
Sampai dengan saat ini makanan probiotik banyak didominasi oleh produk-produk berbasis susu, terutama susu fermentasi, yogurt, kefir, kini muncul pula keju probiotik dan juga ice cream.   Aplikasi probiotik lainnya pada susu yaitu pada susu formula.  Namun demikian, dimasa yang akan datang, pasar makanan probiotik berbasis non susu diperkirakan juga akan berkembang. 
 
Probiotik Non Susu
Pasar probiotik non susu di masa mendatang akan semakin terbuka lebar karena beberapa alasan, yaitu prevalensi tinggi terhadap lactose intolerance serta tren menjadi vegetarian yang semakin meningkat.   Banyak juga orang yang alergi terhadap produk susu sehingga takut mengkonsumsi produk olahan susu. Hal tersebut mendorong para peneliti maupun industri untuk melakukan terobosan yaitu mengganti susu dengan bahan lain seperti sereal, buah, maupun sayuran sebagai vechicle probiotik.  
 
Lactose Intolerance
Laktosa (4-O-β-D-galactopyranosyl-D-glukosa) adalah disakarida yang tersusun oleh glukosa dan galaktosa.  Laktosa ini merupakan gula yang terdapat pada susu mamalia, dengan konsentrasi yang berbeda-beda.   Air susu ibu diperkirakan mengandung laktosa sekitar 7g/100 mL.  Jenis gula ini merupakan diet awal bayi.  Pada saluran pencernaan, disakarida ini akan dipecah oleh enzim laktase (β-galactosidase) menjadi monosakarida  glukosa dan galaktosa.  Pada bayi maupun anak-anak, produksi enzim laktase ini adalah cukup tinggi namun pada orang dewasa kuantitas enzim tersebut menurun. Ketidak mampuan tubuh dalam memproduksi enzim ini akan menyebabkan gangguan metabolisme laktosa, yang sering disebut sebagai lactose intolerance. Gambaran tentang penderita lactose intolerance disajikan pada Gambar 1.
 
Seperti halnya disajikan pada Gambar 1., apabila mengonsumsi laktosa, maka disakarida ini akan dihidrolisis oleh enzim lactase menjadi monosakarida glukosa dan galaktosa yang segera diserap oleh usus.  Ditandai dengan kondisi feses yang normal.   Namun demikian, pada individu yang tidak mampu menghasilkan enzim laktase, laktosa akan menuju ke usus besar (kolon). Molekul laktosa ini merupakan substrat bagi bakteri kolon dan akan segera dihidrolisis menjadi beberapa produk fermentasi, gas, asam organik, dan komponen lainnya.  Laktosa dan hasil metabolit ini merupakan molekul yang mampu mengikat air untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik sehingga terjadi akumulai air.  Akumulasi air ini menyebabkan dehidrasi, ketidak seimbangan elektrolit dan feses menjadi berair. Gas (karbon dioksida, hydrogen, metana) yang dihasilkan selama fermentasi  bakteri kolon juga dapat menyebabkan perut kembung, kram dan flaktulensi.   
 
 
Tentu saja efek dari laktosa yang tidak terhidrolisis ini sangat tergantung dari kemampuan tubuh untuk menghasilkan enzim laktase dan laktosa yang dikonsumsi.  Satu-satunya jalan bagi penderita lactose intolerance adalah menghidari konsumsi susu atau bahan berlaktosa.  Oleh karena itu, produk probiotik non susu merupakan salah satu alternatif bagi para penderita lactose intolerance yang tetap ingin mengkonsumsi makanan probiotik. Lactose intolerance, kadar kolesterol dan protein susu yang dapat menyebabkan alergi merupakan kelemahan utama didalam konsumsi susu dan produk olahannya, sehingga makanan probiotik  non susu memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
 
Jumlah penderita lactose intolerance di tiap wilayah maupun etnis berbeda-beda. Persentase tinggi didominasi oleh wilayah etnis Asia Tengggara dan Asia Amerika (Tabel 1.).  Hal ini menunjukkan bahwa produk probiotik non susu dibutuhkan dan cocok untuk dikembangkan pada pasar dengan tingkat penderita lactose intolerance tinggi. 
 
Berbagai Jenis Pangan Probiotik
Berbagai produk makanan probiotik yang telah banyak beredar di pasaran, khususnya pasaran luar negeri, baik yang berbasis susu maupun non susu, seperti disajikan pada Tabel 2.  Konsumsi minuman maupun makanan yang mengandung probiotik sedang menjadi tren di seluruh penjuru dunia. Dipasaran (luar negeri) terdapat beberapa jenis probiotik non susu, diantaranya adalah berbagai minuman jus buah probiotik, minuman berbasis kedelai, bahkan telah muncul pula probiotic cereal dan chocolate bar.  Seperti disajikan pada Gambar 2, beberapa jenis makanan fermentasi dapat dikembangkan sebagai vehicle probiotik, seperti halnya kimchi, sauerkraut, maupun tape ketan.  Demikian pula, probiotik yang telah melalui proses mikroenkapsulasi dapat diintroduksikan pada berbagai jenis makanan, misalnya candy, bar, dan sebagainya.
 
Produksi makanan probiotik
Produk makanan probiotik dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok utama, yaitu fermentasi dan non fermentasi, yang cara produksinya seperti disajikan pada Gambar 2.
Pada makanan probiotik fermentasi, kultur probiotik dapat digunakan sebagai starter selama proses fermentasi (misalnya pada produk Yakult), atau sebagai co-starter pada produk yogurt ataupun cheese, untuk menghasilkan yogurt-probiotik dan cheese-probiotik. Produk fermentasi sayuran seperti halnya kimchi dan sauerkraut juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai makanan fermentasi probiotik dengan menambahkan kultur probiotik selama proses fermentasi. Selama proses fermentasi, populasi probiotik meningkat sehingga memenuhi persyaratan untuk dipasarkan sebagai produk probiotik.
 
Beberapa produk fermentasi non susu yang telah dikembangkan, walaupun belum sampai pada tingkat komersial adalah tape probiotik (termasuk dalam bentuk powder), minuman fermentasi laktat berbasis kedelai dan kacang tanah (cereals/nuts-lactic drink) Probiotik non-susu, khususnya yang berbasis buah-buahan memiliki potensi untuk dikembangkan.  Jus buah probiotik telah banyak beredar dipasar luar negeri. Buah kaya akan mineral, vitamin, serat makanan, antioksidan, dan tidak mengandung alergen susu, sehingga merupakan pasar tersendiri.  Evaluasi secara sensoris pada jus buah yang disuplementasi probiotik perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan dan penerimaan konsumen terhadap produk mengingat adanya kemungkinan munculnya rasa dan aroma yang muncul terlalu kuat, seperti rasa pahit, keasaman, dan astringency pada jus buah probiotik. (Granato et al., 2010). 
 
Untuk produk probiotik non susu, proses pembuatannya sedikit berbeda, diawali dengan produksi biomassa, dan sebelum diintroduksikan pada makanan, pada umumnya probiotik ini dimikroenkapsulasi terlebih dahulu untuk menjaga stabilitas dan viabilitas.  Probiotik yang dimasukkan pada jus buah dengan pH asam, perlu mendapat perlindungan, yaitu dengan cara mikroenkapsulasi.  Beberapa bahan yang sering digunakan untuk mikroenkapsulasi diantaranya alginate (ditambah dengan kalsium klorida), pati dan maltodekstrin, xantan-gelan, karagenan, gelatin, kitosan, skim milk dan protein whey, minyak kedelai bahkan komponen prebiotik.
 
Tantangan dan peluang produk makanan probiotik non-susu, perlu diimbangi dengan teknologi mikroenkapsulasi yang ditujukan untuk menjaga stabilitas dan viabilitas agar probiotik ini dapat diintroduksikan pada berbagai jenis makanan.
 
 
Referensi
Granato, D., Branco G.F., Nazzaro F., Cruz A.G., and Faria J. 2010. Functional Food and Nondairy Probiotic Food Development: Trends, Concepts, and Products. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety. 9 : 292-302.
 
Oleh : Prof. Endang S. Rahayu
           Fakultas Teknologi Pertanian
          Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta
 
(FOODREVIEW INDONESIA Edis April 2011)
 

Artikel Lainnya

  • Mar 08, 2021

    Aplikasi HFCS pada Produk Pangan

    Dibandingkan dengan sukrosa, HFCS memiliki profil tingkat kemanisan yang lebih tinggi, profil rasa yang lebih stabil, dan memiliki kelarutan yang tinggi sehingga sangat mudah diaplikasikan pada berbagai spektrum produk pangan. HFCS secara tradisional biasa digunakan untuk minuman (kopi, jus, minuman ringan, minuman energi, minuman isotonik, varian teh, dan minuman jeli), tetapi dalam perkembangannya, HFCS juga digunakan untuk aplikasi lainnya seperti snack dan bakeri (pastri, selai, isian buah, dan buah dalam kaleng), serta produk dairy (es krim). ...

  • Feb 28, 2021

    Penjaminan Keamanan Pangan Produk UKM

    Untuk menjamin keamanan suatu produk pangan, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di bidang pangan disarankan untuk menerapkan sistem jaminan mutu keamanan pangan yang bersifat sistematis dan didasarkan pada prinsip-prinsip yang ditujukan untuk mengidentifikasi adanya bahaya yang mungkin timbul pada setiap tahap dalam rantai produksi pangan. Adanya sistem tersebut dimaksudkan sebagai suatu upaya pengendalian demi mencegah timbulnya ancaman yang mungkin terjadi. ...

  • Feb 27, 2021

    Tantangan Formulasi Plant-based Meat

    Semenjak pasar vegan dan vegetarian terus bermunculan, permintaan akan produk plant-based meat juga mengalami peningkatan. Salah satu alasan paling mendasar dari konsumsi plant-based meat bagi pelaku vegan dan vegetarian berkaitan dengan aspek etik, keberlanjutan, serta kesehatan. Belakangan, tren mengonsumsi plant-based meat juga semakin meluas pada konsumen nonvegan dan vegetarian seperti kelompok fleksitarian. Kelompok ini memiliki pola konsumsi yang mengurangi pangan hewani dan memperbanyak konsumsi pangan nabati. ...

  • Feb 26, 2021

    Revisi Prinsip Umum Higiene Pangan Codex (CXC 1-1969)

    Di tahun 1969 CCFH mengeluarkan dokumen CXC 1-1969 yang berjudul General Principles of Food Hygiene yang dilengkapi dengan Lampiran tentang Codex Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) atau Sistem Analisa Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis. Sejak diadopsi pertama kali pada tahun 1969, CXC 1-1969 telah mengalami beberapa kali revisi, di mana revisi terakhir dilakukan pada tahun 2013. Dokumen ini dijadikan kiblat manajemen keamanan pangan dan tepat di tahun 2020 dokumen CXC 1-1969 direvisi. Karena itu, baik industri maupun institusi pemerintahan yang mengatur sistem manajemen keamanan pangan tentu saja harus menyesuaikan berbagai perubahan dalam revisi dokumen CXC 1-1969 ini. ...

  • Feb 25, 2021

    Logo Pilihan Lebih Sehat pada Minuman Siap Konsumsi

    Minuman siap konsumsi mencakup antara lain susu plain, susu rasa, susu berperisa, minuman susu, minuman mengandung susu, minuman susu fermentasi, minuman cokelat, minuman kedelai, sari kedelai, sari buah, sari sayur, minuman berperisa berkarbonat, minuman berperisa tidak berkarbonat, minuman sari kacang hijau, dan minuman botanikal/minuman rempah. Profil gizi untuk minuman siap konsumsi harus memenuhi persyaratan kandungan gula maksimum 6g/100 ml. Gula dihitung sebagai total monosakarida dan disakarida, tidak termasuk laktosa. Selain itu, pencantuman ini tidak boleh menggunakan BTP Pemanis sebagai upaya mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk dapat mengurangi kesukaan untuk konsumsi yang manis. ...