Bahan Tambahan Pangan Alternatif Pengganti Bahan Berbahaya


 

Permasalahan klasik keamanan mutu dan gizi pangan masih sering terjadi di Indonesia, misalnya penyalahgunaan bahan berbahaya, higiene dan sanitasi yang belum sesuai dengan cara produksi pangan yang baik dan benar, dan penggunaan bahan tambahan pangan yang melampaui batas. "Masalah-masalah tersebut terjadi di antaranya karena kurangnya pengetahuan para pelaku usaha pangan, terutama tingkat industri mikro kecil dan menengah (UMKM)," tutur Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) RI, Penny K. Lukito dalam acara Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (GERMAS SAPA) yang diselenggakan di Jakarta pada 23 November 2017.

 

Ia menjelaskan juga bahwa selain masalah klasik, muncul pula isu baru keamanan pangan seperti beredarnya pangan ilegal, perubahan pola konsumsi gula,  garam dan lemak, munculnya substansi baru yang menjadi cemaran pangan, serta adanya kecurangan yang dilakukan pelaku usaha pangan.

Salah satu upaya untuk mengatasi masalah penggunaan bahan berbahaya adalah dengan mencari alternatif bahan pengganti yang aman. Direktur PT Embrio Biotekindo, Wida Winarno menyontohkan alternatif penggunaan bahan pengganti formalin untuk tahu. Bahan tambahan pangan tersebut terbuat dari ekstrak pisang yang difermentasi menggunakan kombinasi beberapa bakteri asam laktat.

Dengan penggunaan yang mudah dan sosialiasi yang baik, diharapkan bahan tersebut bisa menggantikan formalin yang selama ini masih banyak dipakai para pengrajin tahu. Fri-29

Artikel Lainnya

  • Jan 23, 2021

    Strategi Percepatan Perapan Kecerdasan Buatan

    Penerapan dan adopsi teknologi digital maju seperti AI di industri pangan masih belum sesuai harapan. Banyak industri pangan saat ini berada pada posisi wait and see. Jika pesaingnya menerapkan AI, barulah dia juga akan menerapkan AI. ...

  • Jan 22, 2021

    Inovasi Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan

    Berbagai inovasi penggunaan kecerdasan buatan untuk pangan telah dilakukan di berbagai negara maju. Sebagai contoh, Majalah Forbes (April 2020) menyajikan artikel yang berjudul “This AI Camera Can Help Restaurants Show that Their Food is Safe from Coronavirus”. Penemuan mutakhir ini merupakan terobosan yang cukup nyata dalam industri pangan. Alat ini mampu memastikan bahwa makanan yang dihidangkan terbebas dari virus korona karena telah dipersiapkan dengan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini dimungkinkan karena pembuatan makanan dipantau lewat kamera yang menggunakan algoritma cerdas dan teknik image recognition. ...

  • Jan 21, 2021

    Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan 2021

    Saat ini digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi bisnis dan industri. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robot mampu melaksanakan berbagai tugas lebih cepat dan lebih baik (presisi) dari pada manusia. Walaupun atmosfir digitalisasi di industri pangan sudah terasa sejak dicanangkannya program “Making Indonesia 4.0” beberapa tahun lalu, namun penerapannya masih belum memuaskan. Diperkirakan baru sekitar 5-10% industri pangan yang sudah melaksanakan program digitalisasi. Selebihnya baru pada tahap pengenalan (familiarisasi) atau bahkan belum mengenal digitalisasi sama sekali. Padahal kalau kita bandingkan dengan luar negeri, negara kita masih jauh tertinggal dalam proses digitalisasi. ...

  • Jan 20, 2021

    Kinerja Pangan Strategis

    Dari sisi suplai, sektor pertanian mencatat pertumbuhan positif dan menjadi bantalan (cushion) di tengah resesi ekonomi Indonesia. Sektor pertanian tumbuh 2,19 dan 2,15% (y-on-y) dan pada Q2 dan Q3- 2020. ...

  • Jan 19, 2021

    Pola Konsumsi Masa Pandemi

    Sepanjang tahun 2020, komponen sisi pengeluaran seluruhnya mengalamai kontraksi, kecuali pengeluaran pemerintah yang mengalami pertumbuhan 9,76% (y-o-y) pada Q3-2020. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga masih terkontraksi minus 4,04%, pengeluaran konsumsi LNPRT (Lembaga non-profit yang melayani rumah tangga) juga minus 2,12%, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) negatif 6,48%, ekspor negatif 10,82%, dan impor lebih parah sampai minus 21,86%. ...