Perlunya Pengembangan Teknologi untuk Penguatan Industri


 

Pengembangan dan riset teknologi dapat dimanfaatkan hasilnya dan diaplikasikan oleh fasilitas pelayanan masyarakat. Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Narkotika, Psikotropika & Zat Adiktif Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) RI, Dra. Nurma Hidayati, Apt. mengemukakan bahwa pengembangan bioteknologi perlu didorong untuk menciptakan penemuan baru yang berguna bagi masyarakat. "Salah satu inovasi terbaru adalah cangkang kapsul dari ekstrak rumput laut. Diketahui bahwa cangkang kapsul yang beredar saat ini bersumber dari hewan, misalnya gelatin sehingga masih rentan terhadap isu halal," tuturnya dalam 5th Edition Indonesia Laboratory, Scientific Analytical Equipments & Service Exhibition and Conference yang diselenggarakan di Jakarta pada 4-6 April 2018.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI, Dr. Muhammad Dimyati menambahkan bahwa pada 2050 Indonesia diramalkan akan menjadi negara dengan ekonomi raksasa ke-4 dunia dan dipenuhi oleh industri 4.0. Hal tersebut perlu diantisipasi dengan pengembangan teknologi dan penerapannya di industri sejak sekarang. Salah satu upaya pemerintah dalam mendorong hal tersebut adalah dengan adanya Rancangan Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (RUU sisnas iptek) yang akan mendorong dan memfasilitasi kerja sama riset di pergurualan tinggi, badan penelitian dan industri yg selama ini kurang bersinergi. Fri-29

Artikel Lainnya

  • Jan 21, 2021

    Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan 2021

    Saat ini digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi bisnis dan industri. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robot mampu melaksanakan berbagai tugas lebih cepat dan lebih baik (presisi) dari pada manusia. Walaupun atmosfir digitalisasi di industri pangan sudah terasa sejak dicanangkannya program “Making Indonesia 4.0” beberapa tahun lalu, namun penerapannya masih belum memuaskan. Diperkirakan baru sekitar 5-10% industri pangan yang sudah melaksanakan program digitalisasi. Selebihnya baru pada tahap pengenalan (familiarisasi) atau bahkan belum mengenal digitalisasi sama sekali. Padahal kalau kita bandingkan dengan luar negeri, negara kita masih jauh tertinggal dalam proses digitalisasi. ...

  • Jan 20, 2021

    Kinerja Pangan Strategis

    Dari sisi suplai, sektor pertanian mencatat pertumbuhan positif dan menjadi bantalan (cushion) di tengah resesi ekonomi Indonesia. Sektor pertanian tumbuh 2,19 dan 2,15% (y-on-y) dan pada Q2 dan Q3- 2020. ...

  • Jan 19, 2021

    Pola Konsumsi Masa Pandemi

    Sepanjang tahun 2020, komponen sisi pengeluaran seluruhnya mengalamai kontraksi, kecuali pengeluaran pemerintah yang mengalami pertumbuhan 9,76% (y-o-y) pada Q3-2020. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga masih terkontraksi minus 4,04%, pengeluaran konsumsi LNPRT (Lembaga non-profit yang melayani rumah tangga) juga minus 2,12%, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) negatif 6,48%, ekspor negatif 10,82%, dan impor lebih parah sampai minus 21,86%. ...

  • Jan 18, 2021

    Industri Pangan 2021

    Pandemi virus korona di tahun 2020 telah menyebabkan perubahan di berbagai lini kehidupan, seperti cara berbelanja, bersosialisasi, belajar hingga hiburan dan lainnya. Industri pangan misalnya, harus segera menyesuaikan dengan kondisi yang tidak menentu untuk tetap dapat menyediakan kebutuhan pangan bagi konsumennya (yang lebih memilih dan sadar mencari produk-produk untuk kesehatan dan kebugaran). ...

  • Des 30, 2020

    Tren Snack Lebih Menyehatkan

    Produk snack bercita rasa asin-gurih (savory snacks) sampai saat ini masih banyak diminati dan mengisi pasar-pasar yang ada. Pertumbuhan ekonomi dan pergeseran demografis menciptakan pemintaan yang baru untuk produk dengan pengalaman rasa yang lebih banyak di negara Asia. Pasar konsumen yang muncul di Asia lebih memilih produk dengan flavor yang kuat dengan karakter eksotis yang lekat.  ...