Teknologi Susu Bebas Laktosa: Solusi Bioteknologi


Oleh Nurhayati THP FTP UNEJ;
Pengurus PATPI Pusat; Pengurus FPTI; Anggota P3FNI; Anggota PBBMI

Mendengar kata “susu”, sebagian besar masyarakat akan langsung mengaitkannya dengan slogan “Empat Sehat Lima Sempurna”, di mana susu berperan sebagai pelengkap zat gizi. Secara definisi, susu merupakan cairan bergizi berwarna putih yang disekresikan oleh kelenjar mamalia, seperti manusia, sapi, domba, kerbau, dan kuda. Namun, konsumsi susu juga mengandung risiko bagi sebagian populasi, yaitu khususnya bagi sebagian masyarakat Indonesia yang tidak dapat mencerna laktosa, sehingga justru bisa menjadi pemicu gangguan pencernaan.

Karakteristik visual cairan susu yang khas ini membuat berbagai produk minuman berbasis tanaman (plant-based) yang berwarna putih serupa sering kali ikut dikategorikan sebagai “susu nabati”. Sebagai contoh, santan kerap disebut sebagai coconut milk, sementara sari kedelai dikenal dengan istilah soy milk. Dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), susu hadir sebagai minuman ideal yang menyempurnakan komposisi menu bergizi seimbang. Namun, bagi konsumen dengan kondisi alergi protein susu, produk pengganti berbasis nabati menjadi solusi mutlak. Kondisi pasar inilah yang kemudian mempopulerkan dua istilah di tengah masyarakat, yakni susu hewani dan alternatifnya, susu nabati. Perbandingan keduanya tersebut diuraikan pada Tabel 1. 

Keistimewaan susu hewani
Susu hewani seperti susu sapi, susu kambing, susu kerbau, susu kuda, termasuk ASI (air susu ibu) dan lainnya memiliki beberapa keistimewaan nutrisi dan fungsional jika dibandingkan dengan susu nabati. Keistimewaan susu hewani yaitu:
 

  1. Profil asam amino lengkap, yang mengandung kesembilan asam amino esensial (leusin, isoleusin, valin, lisin, treonin, metionin, fenilalanin, triptofan, histidin) dalam proporsi yang optimal bagi tubuh manusia sebagai sumber protein yang sangat baik, terutama untuk pertumbuhan anak, pemulihan otot, dan kesehatan umum.
  2. Kaya kalsium dan mineral penting, untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang serta gigi dan kandungan mineral (fosfor, magnesium, seng, dan kalium) sangat diperlukan untuk metabolisme dan fungsi saraf.
  3. Sumber penyerapan vitamin, seperti vitamin A, D, B2 (riboflavin), B12, dan niasin dalam bentuk yang mudah diserap tubuh. Vitamin D alami pada susu juga membantu penyerapan kalsium secara optimal.
  4. Kandungan lemak yang mendukung energi, untuk aktivitas tinggi seperti pada usia anak-anak dan orang dengan kebutuhan kalori lebih besar contohnya atlet, serta mengandung asam lemak rantai pendek dan menengah yang lebih mudah dicerna.
  5. Mendukung sistem imun, dengan kandungan laktoglobulin, laktoferin, dan imunoglobulin (terutama dalam kolostrum), yang dapat membantu sistem imun tubuh.
  6. Mendukung pertumbuhan dan perkembangan, dengan kandungan IGF-1 (Insulin-like Growth Factor 1) dalam susu sapi yang dikaitkan dengan stimulus pertumbuhan, terutama pada anak-anak.
  7. Bersifat sinbiotik, jika difermentasi oleh bakteri asam laktat dengan tambahan prebiotik seperti fruktooligosakarida (FOS), galaktooligosakarida (GOS), inulin, dan lainnya. Produk susu terfermentasi seperti yoghurt, dadih, dan kefir mengandung probiotik yang mendukung kesehatan pencernaan dan kekebalan tubuh.

Laktosa berbahayakah?
Kandungan laktosa pada beragam jenis susu hewani berbeda-beda tergantung sumbernya seperti yang disajikan pada Tabel 2. Kandungan laktosa pada susu ibu (ASI) adalah paling tinggi dari lainnya. Akan tetapi ASI lebih adaptif bagi bayi dibandingkan susu sapi maupun ternak lainnya. Secara fisiologis, meskipun kandungan laktosa pada Air Susu Ibu (ASI) paling tinggi, sistem biologis bayi telah dilengkapi dengan produksi enzim laktase endogen secara alami. Enzim laktase mampu langsung memecah laktosa menjadi energi serta mendukung penyerapan nutrisi dan pembentukan mikrobioma usus yang sehat, tanpa memicu gangguan pencernaan.

Kandungan laktosa dalam susu sapi dapat menunjukkan sedikit variasi tergantung pada jenis sapi, tahap laktasi, dan praktik pemberian pakan musiman. Namun, fluktuasi tersebut umumnya kecil, seringkali dalam beberapa persepuluh persen. Misalnya, kadar laktosa pada sapi Holstein dan Jersey dilaporkan sekitar 4,5% dengan deviasi standar sekitar 0,2-0,3%, akan tetapi kadar lipid dan protein dapat berkurang secara progresif atau cepat menurun selama masa laktasi.


Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 5

Artikel Terkait

FOODREVIEW DIGITAL LIBRARY