Sistem Ketertelusuran untuk Mengurangi Penarikan Produk




Penarikan produk atau recall memberikan dampak yang tidak baik, tidak hanya bagi konsumen, namun juga produsen. Penarikan produk yang terjadi biasanya didasari oleh beberapa hal seperti kaitannya dengan kesehatan, memberi informasi terkait potensi bahaya pada produk, dan lain sebagainya. Meski terlihat sederhana, proses recall ini tidak bisa dilakukan dengan sembarangan.

"Ada 7 prosedur yang perlu diterapkan dalam melakukan product recall," jelas Presales Consultant - SYSPRO Indonesia, Yuda Prihagunawan dalam Foodreview Indonesia Webinar dengan tema Update on Traceability and Authenticity to Ensure Food Safety pada 12 November 2020, melalui sebuah aplikasi daring. Ketujuh prosedur tersebut adalah mengembangkan kebijakan produk recall, mengembangkan rencana produk recall, menguji rencana produk recall, peringatan dan inisiasi produk recall, manajemen produk recall, penutupan produk recall, dan ulasan produk recall serta perubahan rencana produk recall. 

Webinar yang dipandu oleh Ketua Bidang Regulasi Teknis GAPMMI, Roch Ratri Wandansari ini juga turut menghadirkan Prof. Dr. Winiati Pudji Rahayu dari PATPI dan Ema Setyawati, S.Si., Apt., ME. selaku Direktur Pengawasan Pangan Risiko Tinggi dan Teknologi Baru, yang menjelaskan terkait pemutakhiran informasi dan teknologi sistem ketertelusuran untuk mengurangi penarikan produk di pasaran. Fri-35

 

Artikel Lainnya

  • Nov 30, 2020

    Potensi Protein Whey sebagai Ingridien Fungsional

    Perkembangan teknologi pengolahan keju memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemanfaatan produk samping whey. Whey merupakan produk samping dalam bentuk cair yang dihasilkan dari koagulasi susu pada pengolahan keju. Pada abad 19, terjadi peningkatan produksi keju yang menghasilkan whey dengan biochemical oxygen demand (BOD) antara 35 - 45 kgm-3 dan chemical oxygen demand (COD) 60-70 kgm-3 yang memberikan kontribusi kategori whey sebagai limbah.  ...

  • Nov 29, 2020

    Uji Sensoris Berbasis Konsumen

    Pada dasarnya target produsen untuk penyesuaian selera atau rasa bagi konsumen. Sehingga, melibatkan konsumen dalam tahap uji sensori ini menjadi cukup penting. Dalam ilmu sensori, memang sering menggunakan konsumen sebagai panelis, hanya saja masih terbatas untuk uji afektif yakni uji kesukaan atau uji hedonik yang biasa digunakan untuk uji sensori penerimaan produk di konsumen.   ...

  • Nov 28, 2020

    Perkembangan Ilmu Sensoris

    Ilmu sensoris terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan dan memberikan prediksi keberhasilan produk yang lebih baik dan lebih cepat. Sensoris akan terus berperan dalam memungkinkan industri pangan mendapatkan keunggulan kompetitif dengan meluncurkan produk baru yang lebih kompetitif dan inovatif di pasaran demi mempertahankan pasokan pangan yang berkelanjutan. Sifat sensori bagi produk pangan menjadi aspek esensial karena konsumen akhirnya adalah manusia. Produk pangan dengan mutu gizi yang baik serta aman namun sama sekali tidak menarik, tidak enak, dan tidak membangkitkan selera maka produk tersebut pasti kurang dapat diterima. ...

  • Nov 27, 2020

    Proses Fermentasi-Inkubasi Biji Kakao Tidak Terfermentasi

    Biji kakao tidak terfermentasi yang dilakukan refermentasi ulang memiliki rasa yang berbeda dengan biji kakao yang sejak awal telah melalui proses fermentasi. Perbedaan rasa ini terjadi akibat proses pengeringan yang telah dilakukan pada biji sehingga kehilangan senyawa penting dalam pembentukan flavor. Namun demikian, biji kakao tidak terfermentasi ini masih dapat dilakukan proses lebih lanjut untuk membuatnya menjadi lebih baik secara aroma ataupun rasa. Proses yang dilakukan biasa disebut dengan proses fermentasi-inkubasi pada biji kakao tidak terfermentasi yang telah melalui proses pengeringan. ...

  • Nov 26, 2020

    Pemanfaatan Singkong di Indonesia

    Umbi lain yang saat ini dieksplorasi untuk menggantikan terigu adalah singkong. Singkong merupakan komoditas penting dan menjadi komoditas yang terus dikembangkan di Indonesia. Pengolahan singkong sebagai tepung semakin meningkat saat ini dikarenakan adanya peningkatan umur simpan, kemudahan distribusi, dan kemudahan untuk diaplikasikan pada produk pangan dibandingkan dengan  dalam bentuk segar.    ...