
Oleh Hilman Maulana
Pusat Penelitian Teh dan Kina – PT Riset Perkebunan Nusantara
Industri pangan global saat ini tengah memasuki babak baru yang dikenal sebagai revolusi kebugaran (wellness). Fenomena ini merujuk pada pergeseran paradigma kesehatan yang bersifat kuratif menuju preventif dan holistik, kemudian didukung oleh digitalisasi informasi kesehatan, healthy aging awareness, dan pengalaman pandemi yang memerlukan peningkatan sistem imun. Dalam konteks ini, pangan semakin dipandang tidak hanya sebagai sumber gizi, tetapi juga sebagai bagian penting dari upaya menjaga kesehatan, kebugaran, dan kualitas hidup.
Pergeseran paradigma ini pun dipercepat dan diperkuat oleh konsumen—khususnya Gen Z dan Milenial—yang memandang wellness sebagai bagian dari gaya hidup dan bukan sekadar intervensi medis saja.
Laporan McKinsey & Company (2025) mencatat bahwa wellness telah menjadi ekonomi besar, dengan estimasi nilai pasar global mencapai sekitar USD 2 triliun pada 2025 dan mengalami peningkatan pesat yang didorong oleh Gen Z dan Milenial. Namun, perlu digarisbawahi bahwa angka tersebut merupakan estimasi pemetaan perilaku konsumen di tingkat industri yang memakai definisi wellness secara luas (gabungan consumer health “essential” dan belanja “discretionary”), sehingga bukan hasil perhitungan dan analisis yang langsung berasal dari survei atau riset primer. Dari laporan tersebut, salah satu kendaraan revolusi wellness ini adalah pangan fungsional, meskipun pada laporan itu dibahas pada ranah konsep, dan dibingkai dengan terminologi functional nutrition, yang secara konseptual beririsan dengan konsep pangan fungsional.
Kita akan coba definisikan istilah pangan fungsional, karena definisi pangan fungsional ini berbeda antarnegara terkait dengan konsepsi dan regulasi di masing-masing negara, akan tetapi secara umum dapat dipahami sebagai pangan yang memberikan manfaat fisiologis/kesehatan tambahan di luar pemenuhan gizi dasar. Perbedaan kerangka ini berdampak pada strategi inovasi dan klaim.
Melalui definisi dan konteks wellness tersebut, industri kemudian menanggapi dengan memperluas portofolio produk berbasis bahan aktif probiotik, prebiotik/serat, polifenol, omega-3, protein nabati, adaptogen, vitaminmineral fortifikasi, dan bioaktif lainnya yang membentuk suatu tren fungsional. Probiotik dan prebiotik, misalnya, berkembang sebagai pendorong inovasi kesehatan pencernaan dan imunitas. Di sisi lain, protein nabati dan protein alternatif menonjol karena kombinasi isu kesehatan, keberlanjutan, dan keamanan rantai pasok. Adaptogen dan herbal juga menguat dalam narasi manajemen stres dan energi, dengan ashwagandha sebagai salah satu contoh yang sering dikaji.
Di antara kandidat bahan aktif tersebut, polifenol menarik untuk dibahas karena spektrum bioaktivitasnya luas dan ketersediaannya tinggi pada bahan nabati. Polifenol hadir luas pada buah, sayur, rempah, teh, kakao, dan berbagai produk samping (by-product) industri pangan; sekaligus terkait dengan mekanisme biologis yang relevan untuk inflamasi, stres oksidatif, mikrobiota, dan metabolisme. Kemudian pada tataran produk, hadir sebagai pangan alami kaya polifenol (misalnya teh atau beri) maupun sebagai ekstrak terstandar untuk fortifikasi minuman dan suplemen.
Polifenol
Polifenol adalah kelompok besar senyawa alami pada tanaman yang memiliki lebih dari satu gugus fenol. Bentuknya yang beragam—misalnya flavonoid, tanin—sehingga sumber dan kestabilannya berbeda-beda. Manfaatnya sering dikaitkan dengan antioksidan, inflamasi, enzim metabolik, dan mikrobiota usus. Praktisi industri menjadikan minuman fungsional polifenol jadi “arena utama” karena paling dekat dengan kebiasaan harian— mudah diminum, mudah ditambah ingridien lain, dan manfaatnya relatif cepat dikomunikasikan pada label maupun materi edukasi. Contoh yang sering dipakai antara lain teh tinggi katekin, minuman herbal, kopi dengan asam klorogenat, smoothie/jus beri kaya antosianin, sampai minuman rempah.
Menariknya, Indonesia memiliki modal budaya yang kuat—misalnya teh, jamu dan aneka wedang—sehingga konsumen tidak asing dengan konsep “minum untuk rasa dengan manfaat”, rujukan mengenai hal tersebut, juga pernah dituliskan penulis dalam artikel FoodReview Indonesia sebelumnya dengan judul Reformulasi Minuman: Inovasi Berbasis Ingridien Fungsional Indonesia, FoodReview Indonesia Vol. XX / No. 3 / Maret 2025. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan halhal terkait proses yang lebih modern, standar bahan baku yang konsisten, dan dukungan bukti ilmiah. Jika tiga hal ini rapi, minuman tradisional bisa naik kelas menjadi bagian portofolio wellness yang kredibel, bukan sekadar “warisan”.
“Arena” lainnya yang menjadi target industri adalah pasar suplemen. Polifenol biasanya hadir sebagai ekstrak terstandar (kapsul, tablet, atau serbuk) agar dosisnya lebih konsisten dibanding dari makanan/ minuman biasa. Contoh yang umum: ekstrak teh hijau atau ekstrak beri yang sering diposisikan untuk dukungan antioksidan, metabolisme, atau kesehatan kardiometabolik. Namun, suplemen polifenol menghadapi tiga tantangan utama. Pertama, standardisasi bahan baku, karena kualitas tanaman dapat berbeda antarmusim, lokasi budidaya, dan proses pengolahan. Kedua, bioavailabilitas, karena sebagian polifenol memiliki tingkat penyerapan yang relatif rendah sehingga efeknya tidak selalu muncul secepat yang diharapkan. Ketiga, kepatuhan terhadap klaim dan mutu produk, di mana klaim manfaat harus sesuai dengan ketentuan regulasi dan kualitas produk harus dijaga secara konsisten. Terakhir, pengawasan pasar pun krusial, produk yang tidak aman atau mutu di bawah standar cepat merusak kepercayaan konsumen—dan ujungnya merugikan merek yang serius membangun kategori ini.
Tantangan lainnya adalah ketahanan polifenol sejak masih bahan baku sampai jadi produk. Begitu masuk proses (pemanasan, paparan oksigen, paparan cahaya, perubahan pH) dan masuk tubuh (penyerapan yang tidak selalu tinggi), performa polifenol bisa turun. Karena itu, industri butuh Polyphenols Enabling Technology, teknologi “di balik layar” yang membuat polifenol tetap stabil, mudah diformulasikan, dan manfaatnya lebih konsisten sampai saluran pencernaan. Praktiknya mencakup mikro/nanoenkapsulasi, serta kompleks polifenol–protein–polisakarida untuk proteksi dan pelepasan terarah; sekaligus optimalisasi ekstraksi–isolasi (termasuk dari by-product) agar biaya bahan aktif lebih efisien dan lebih berkelanjutan.
Memasuki 2026–2029, sinyal literatur ilmiah dan analisis pasar menempatkan polifenol sebagai bagian dari gelombang inovasi yang semakin terfokus pada tiga poros utama. Pertama, healthy aging dan pencegahan risiko kardiometabolik melalui pendekatan preventif. Kedua, personalisasi (berbasis kebutuhan/ tujuan) yang diterjemahkan ke dalam segmentasi manfaat (mis. gut health, mood/stress, metabolic health) dan format yang mudah diadopsi konsumen. Ketiga, integrasi sains dengan warisan tradisional—misalnya pengembangan jamu modern yang lebih terstandar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari sisi regulasi, tren yang berulang mengarah ke pengetatan klaim, standardisasi, dan harmonisasi untuk menjaga keamanan dan efektivitas produk sekaligus membangun kepercayaan konsumen. Dalam konteks Indonesia, penguatan pengawasan terhadap produk yang tidak memenuhi syarat—terutama pada segmen suplemen dan herbal—menjadi faktor penentu kualitas pasar dan disiplin pelaku usaha.
Implikasi strategis yang timbul adalah perusahaan yang mampu menggabungkan (i) bukti ilmiah dan bukti mutu (misalnya uji stabilitas, data keamanan, serta dukungan manfaat yang relevan), (ii) standardisasi bahan aktif dan konsistensi batch, serta (iii) desain produk yang enak dan mudah dikonsumsi, akan lebih siap menghadapi kompetisi berbasis claim and trust. Secara operasional, pendekatan ini mendorong pengembangan spesifikasi marker compound, kontrol proses dan masa simpan, serta penguatan narasi manfaat yang sejalan dengan batas klaim regulatori.
Inovasi hulu–hilir diproyeksikan menjadi diferensiasi penting: pemanfaatan by-product sebagai sumber polifenol, optimasi ekstraksi (termasuk pendekatan green extraction dari berbagai food wastes), hingga penerapan teknologi delivery system (misalnya mikroenkapsulasi) untuk perlindungan, peningkatan bioavailabilitas, dan controlled release.
Strategi
Keputusan hilir yang menentukan inovasi teknis akan berhasil di pasar wellness dengan basis bahwa konsumen semakin memandang makanan sebagai bagian dari pendekatan preventif terhadap kesehatan, sehingga kategori fungsional tumbuh pesat dan mendorong diferensiasi produk berdasarkan manfaat dan segmen penggunaan. Sejalan dengan itu, tren pasar menekankan bahwa inovasi minuman dan suplemen berbasis polifenol sering dipaketkan dengan klaim manfaat yang spesifik—misalnya minuman kecantikan, minuman energi dan olahraga, serta minuman penunjang kognitif—untuk membuka segmen baru dan memperjelas proposisi nilai bagi konsumen.
Dari sudut desain portofolio, beberapa pola yang konsisten adalah: (a) pergeseran ke bahan alami dan “clean label” sebagai alternatif aditif sintetis, sehingga ekstrak tumbuhan kaya polifenol semakin sering dipilih untuk memenuhi preferensi produk bebas pengawet buatan; (b) personalisasi dan “paket fungsi” untuk tujuan tertentu, misalnya formula yang disesuaikan untuk kesehatan gut, mood/ stress, atau tujuan kardiometabolik, termasuk pendekatan “metabolic stack” yang menggabungkan protein tinggi dengan polifenol tertentu agar mudah dipasarkan karena menjawab tujuan konsumen secara langsung; serta (c) integrasi tradisi dengan sains— misalnya repositioning minuman teh dan minuman tradisional menjadi format modern yang lebih praktis dan selaras gaya hidup, tanpa melepaskan identitas bahan lokal.
Go-to-market yang efektif kemudian menjadi fungsi dari tiga keputusan. Pertama, pemilihan format disesuaikan dengan konteks konsumsi dan tradeoff sensori/stabilitas: misalnya RTD, serbuk saset larut minum, kapsul, gummy, hingga tablet effervescent yang memudahkan kepatuhan konsumsi sekaligus membuka variasi pengalaman sensori. Kedua, strategi kanal menekankan kombinasi edukasi dan distribusi: perusahaan menguatkan komunikasi digital, memanfaatkan e-commerce/marketplace, model langganan, serta pendekatan omnichannel dengan mengintegrasikan toko fisik, apotek, dan layanan kesehatan/klinik dengan platform digital. Dalam konteks Indonesia, terjadinya percepatan belanja suplemen secara daring karena kemudahan mencari ulasan dan produk yang tidak selalu tersedia di apotek lokal. Ketiga, narasi nilai perlu konsisten dengan bukti dan regulasi: edukasi ilmiah, storytelling manfaat yang relevan dengan gaya hidup target, dan penggunaan bukti yang proporsional—misalnya uji lab atau uji klinis kecil—berperan membangun kepercayaan konsumen teredukasi.
Sebagai ringkasan praktis, kita mulai dari mengunci spesifikasi dan konsistensi batch (standardisasi), menutup batasan rasa/stabilitas (formulasi), memilih delivery system hanya jika dibutuhkan untuk kinerja biologis (teknologi), membangun paket bukti sesuai level klaim (regulasi), lalu memetakan SKU, format, dan kanal berdasarkan kebutuhan konsumen (portofolio dan go-to-market).
Referensi
Pione, A., Medalsy, J., Weaver, K., Callaghan, S., & Rickert, S. (2025, May 29). The $2 trillion global wellness market gets a millennial and Gen Z glow-up. McKinsey & Company. https://www.mckinsey.com/industries/ consumer-packaged-goods/our-insights/future-ofwellness-trends
Zhang, Z., Li, X., Sang, S., McClements, D. J., Chen, L., Long, J., Jiao, A., Jin, Z., & Qiu, C. (2022). Polyphenols as plant-based nutraceuticals: Health effects, encapsulation, nano-delivery, and application. Foods, 11(15), 2189. https://doi.org/10.3390/foods11152189
Fredsgaard, M., Fussy, A., Nybo, G. K., Papenbrock, J., Hulkko, L. S. S., Dadjoo, M., Chaturvedi, T., & Thomsen, M. H. (2026). Polyphenols in food and food wastes: Extraction, isolation, and health applications. Food Chemistry: Molecular Sciences, 12, 100351.
https://doi.org/10.1016/j.fochms.2025.100351
