SHIMADZU Global Technology Forum on Food Safety 2011

Pangan merupakan salah satu komoditas dalam perdagangan internasional yang sangat penting.  "Nilainya mencapai 40% dari total perdagangan global," ujar Managing Director Shimadzu Asia Pacific Singapura, Tsuguo Kishida, dalam Shimadzu Global Technology Forum on Food Safety 2011 di Singapura, 9-11 November lalu.  Lebih lanjut Tsuguo mengungkapkan bahwa terdapat berbagai isu keamanan pangan yang turut mempengaruhi industri pangan internasional.  "Apalagi, regulasi yang berkaitan dengan produk pangan di dunia cukup bervariasi dan semakin ketat," tambahnya.

Berkenaan dengan hal tersebut, Shimadzu secara khusus mengangkat topik "Strategies for Effective Regulation in Food Safety", dengan menghadirkan beberapa pembicara internasional.  Salah satunya adalah Director of National Key Laboratory of Chemical Safety and Health Cina, Yong-ning WU.  Menurut WU, adanya kasus melamin yang terjadi beberapa waktu lalu menurunkan kepercayaan konsumen kepada Pemerintah.  "Oleh sebab itu, kami kini melalukan pengawasan yang lebih ketat," tutur WU.  Sistem keamanan di Cina sebenarnya telah direformasi berdasarkan kajian risiko analisis setelah adanya regulasi pangan yang baru pada 2009.  Bahkan dibentuk pula lembaga baru dengan nama China National Center fot Food Safety Risk Assesment (CFSA) yang di dalamnya meliputi risk assesment, risk monitoring plan, risk communication, risk alert, reference lab, dan data management.

Menanggapi keamanan pangan di negara berkembang, WU menegaskan bahwa pemerintah tidak perlu melakukan lagi investigasi sifat hazard, karena semuanya sudah ditetapkan oleh lembaga internasional.  Namun demikian, pemerintah perlu melakukan penelitian untuk mengetahui total paparan berdasarkan kebiasaan konsumsi penduduknya.

Sementara itu, Global Technical Head Tuv SUD India, Dr, V Meenakumari, menyatakan bahwa sangat penting untuk memilih metode yang tervalidasi dalam analisa pangan.  "Validasi yang dimaksud adalah sesuai dengan regulasi dan memiliki parameter yang jelas," kata Meenakumari.  Hanya saja, dalam pelaksanaannya sering ditemui berbagai tantangan seperti tuntutan untuk memenuhi regulasi yang berbeda, proses dan persyaratan validasi, dokumentasi, dan regulasi yang berubah-ubah.
Direktur SEAFAST Center IPB, Prof. Purwiyatno Hariyadi, yang juga hadir sebagai pembicara mengungkapkan tantangan dan peluang keamanan pangan di negara berkembang, terutama Indonesia.  "Negara seperti Indonesia menanggung beban ganda keamanan pangan," ujar Purwiyatno.  Beban ganda yang dimaksud adalah di satu sisi negara harus menanggung masalah klasik dan di sisi lain juga menanggung isu-isu keamanan pangan baru, terutama dalam kaitannya dengan perdagangan internasional.

Salah satu masalah klasik yang dihadapi adalah rendahnya kondisi sanitasi dan hygiene, penyalah gunaan bahan kimia berbahaya, dan lainnya.  "Dalam hal ini, infrastruktur untuk mewujudkan keamanan pangan masih rendah."  Apalagi sebagian besar industri pangan di Indonesia didominasi oleh usaha kecil dan mikro.

Sedangkan untuk isu-isu terbaru yang berkaitan dengan perdagangan internasional tercermin dengan kasus penolakan beberapa produk ekspor Indonesia.  "Untuk ekspor ke Eropa, penolakan terutama diakibatkan oleh kandungan logam berat.  Sedangkan untuk Amerika Serikat, diakibatkan karena produk yang filthy," ungkap Purwiyatno.  Oleh sebab itu, Purwiyatno mengharapkan usaha yang lebih serius dari Pemerintah untuk memperbaiki keamanan pangan di Indonesia.  "Karena kondisi keamanan pangan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi".  Dia menyontohkan, kasus yang terjadi pada produk perikanan.  "Setelah Pemerintah secara serius merespon kasus-kasus penolakan yang terjadi, kini ekspor produk perikanan Indonesia kembali meningkat".

Technical Director Japan Food Research Laboratory, Prof. Goichiro Yukawa, juga mengungkapkan mengenai kondisi keamanan pangan di Jepang.  "Sistem keamanan pangan di Jepang berubah drastis pada 2003, setelah pengalaman menghadapi patogen baru seperti Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) dan E. coli O157," kata Goichiro.

Goichiro juga menjelaskan salah satu isu yang cukup hangat di Jepang adalah kasus radioaktif akibat tragedi Fukoshima beberapa waktu lalu.  "Pemerintah telah menetapkan provisional regulation value untuk bahan-bahan radioaktif,".  Tidak hanya pangan, regulation value tersebut juga melingkupi fertilizer, pupuk, tanah, dan bahan pertanian lainnya.

Selain pembicara yang telah disebutkan, Shimadzu Global Technology Forum on Food Safety juga menghadirkan Dr. Mathew Lau (Deputy Director Life Sciences Nangyang Polytechnic Singapura), Dr. Jose M. Rodriguez (Director Chemical Regulatory Division Mississippi State University, USA), Dr. Frederic Aymes (Head Nestle Quality Centre, SIngapore), Dr. Yuki Hasi (General Manager Shimadzu Global COE for Application and Technical Development, China), Dr. Yasushi Nagatomi (Chief Researcher Department of Safety Evaluation Research, Laboratories for Food Safety Chemistry, Asahi Breweries, Jepang), Dr. Heinz Dieter Winkeler (Head Department for Residues Analysis of Pesticides and Contaminates, Chemical & Veterinary Investigation Office, Jerman), Dr. Sonia Chatellier (Director Identification Group R&D Microbiology), dan Dr. Andrew Gooley (Director Chromatography Business Unit, SGE Analytical Science, Australia).  Hendry Noer F.


Artikel Terkait