Inovasi produk seasoning dengan ekstrak ragi



 

Menanggapi berbagai tren produk pangan yang berkembang, terutama terkait dengan pengurangan BTP, tentu akan berdampak pada cita rasa produk pangan. Untuk dapat mempertahankan cita rasa tersebut maka dibutuhkan bahan  yang dapat menyubstitusi sehingga tidak mengubah rasa dari produk pangan. Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah dengan penggunaan ekstrak ragi. Ingridien ini dihasilkan dari 100% ragi produk bakeri yang sangat aman karena diperoleh secara alami. Ekstrak ragi juga memiliki cita rasa umami dan kokumi yang dapat memperkaya flavor produk pangan. ìDari segi rasa, ekstrak ragi memiliki cita rasa umami dan kokumi, sehingga penggunaan ekstrak ragi sebagai ingridien pangan sangat tepat, terutama dilihat dari aspek yang lain seperti kesehatan dan zat gizinya,î tutur Extract Yeast R&D Senior Manager Angel Ragi, Chris Guo yang disampaikan dalam In-depth Seminar Foodreview Indonesia: Seasonings, Key Ingredients for Better Food Quality yang diselenggarakan di Bogor beberapa waktu lalu. 

Dari segi keamanan pangan, ekstrak ragi merupakan ingridien pangan yang aman dan regulasinya telah diatur dalam badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA, Food and Drug Administration), ekstrak ragi juga dapat dikonsumsi oleh pelaku vegetarian. 

Lebih lengkapnya silakan baca di Foodreview Indonesia edisi Juni 2018: Dairy Opportunity.
Pembelian & Berlangganan hubungi kami : langganan@foodreview.co.id / 0251 8372 333 / WA 0811 1190 039

Artikel Lainnya

  • Jan 21, 2021

    Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan 2021

    Saat ini digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi bisnis dan industri. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robot mampu melaksanakan berbagai tugas lebih cepat dan lebih baik (presisi) dari pada manusia. Walaupun atmosfir digitalisasi di industri pangan sudah terasa sejak dicanangkannya program “Making Indonesia 4.0” beberapa tahun lalu, namun penerapannya masih belum memuaskan. Diperkirakan baru sekitar 5-10% industri pangan yang sudah melaksanakan program digitalisasi. Selebihnya baru pada tahap pengenalan (familiarisasi) atau bahkan belum mengenal digitalisasi sama sekali. Padahal kalau kita bandingkan dengan luar negeri, negara kita masih jauh tertinggal dalam proses digitalisasi. ...

  • Jan 20, 2021

    Kinerja Pangan Strategis

    Dari sisi suplai, sektor pertanian mencatat pertumbuhan positif dan menjadi bantalan (cushion) di tengah resesi ekonomi Indonesia. Sektor pertanian tumbuh 2,19 dan 2,15% (y-on-y) dan pada Q2 dan Q3- 2020. ...

  • Jan 19, 2021

    Pola Konsumsi Masa Pandemi

    Sepanjang tahun 2020, komponen sisi pengeluaran seluruhnya mengalamai kontraksi, kecuali pengeluaran pemerintah yang mengalami pertumbuhan 9,76% (y-o-y) pada Q3-2020. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga masih terkontraksi minus 4,04%, pengeluaran konsumsi LNPRT (Lembaga non-profit yang melayani rumah tangga) juga minus 2,12%, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) negatif 6,48%, ekspor negatif 10,82%, dan impor lebih parah sampai minus 21,86%. ...

  • Jan 18, 2021

    Industri Pangan 2021

    Pandemi virus korona di tahun 2020 telah menyebabkan perubahan di berbagai lini kehidupan, seperti cara berbelanja, bersosialisasi, belajar hingga hiburan dan lainnya. Industri pangan misalnya, harus segera menyesuaikan dengan kondisi yang tidak menentu untuk tetap dapat menyediakan kebutuhan pangan bagi konsumennya (yang lebih memilih dan sadar mencari produk-produk untuk kesehatan dan kebugaran). ...

  • Des 30, 2020

    Tren Snack Lebih Menyehatkan

    Produk snack bercita rasa asin-gurih (savory snacks) sampai saat ini masih banyak diminati dan mengisi pasar-pasar yang ada. Pertumbuhan ekonomi dan pergeseran demografis menciptakan pemintaan yang baru untuk produk dengan pengalaman rasa yang lebih banyak di negara Asia. Pasar konsumen yang muncul di Asia lebih memilih produk dengan flavor yang kuat dengan karakter eksotis yang lekat.  ...