• Ragam Pangan Lokal untuk Diversifikasi

    Indonesia sangat kaya akan pangan lokal yang dapat dijadikan bahan untuk diversifikasi pangan di setiap daerahnya. Beberapa contoh pangan lokal Indonesia seperti rasi/beras singkong (Cirendue, Jawa Barat), tiwul (Gunung Kidul, DI Yogyakarta), mi singkong (Yogyakarta, Boyolali), ilui/pati singkong (Nunukan, Kalimantan Timur), bintahune/beras jagung (Gorontalo), beras jagung (Madura, Magelang), sinonggi (Sulawesi Tenggara), jagung titi, jagung bose (Nusa Tenggara Timur), dan sagu (Papua dan Maluku). Diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal setempat akan menjadi potensi luar biasa ketika dapat dikembangkan dan menjadi berbagai produk pangan olahan.

  • Diversifikasi Pangan Saat Pandemi COVID-19

    Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran penting akan perlunya pangan yang beragam. Dengan kondisi yang serba tidak pasti dan pembatasan mobilitas, keperluan akan pangan menjadi terhambat dan diperlukan alternatif solusi akan hal tersebut.

  • Pengembangan Pangan Tinggi Pati Resisten

    Pati resisten dapat secara alami terdapat pada suatu bahan pangan. Selain itu, dapat pula ditambahkan dari luar ata bahkan terbentuk akrena proses yang menyebabkan pati yang mudah dicerna pada bahan menjadi pati resisten. Berbagai komoditas lokal Indonesia yang digunakan sebagai bahan baku produk olahan di antaranya adalah komoditas yang secara alami memang tinggi kandungan pati resistennya.

  • Pati Resisten dan Kesehatan Pencernaan

    Pati resisten sudah banyak diketahui mempunyai peran yang penting terhadap kesehatan, di antaranya adalah memperbaiki fungsi organ pencernaan, meningkatkan jumlah mikroflora baik, mempertahankan tingkat kolesterol darah dan dapat mengontrol diabetes karena indeks glikemiknya yang rendah. Pati resisten dapat memicu keluarnya sisa-sisa pangan yang tidak tercerna dengan meningkatkan massanya dan mendorong gerakan peristaltik usus, selain itu juga mengikat lemak- lemak dan kolesterol sehingga tidak menyebabkan terbentuknya plak yang mengotori dinding usus.

  • Karakteristik dan Manfaat Pati Resisten

    Banyak penelitian menggolongkan pati resisten sebagai serat pangan. Tidak terhidrolisis menjadi glukosa-glukosa dalam usus halus dalam waktu 120 menit setelah dikonsumsi, akan tetapi dapat terfermentasi di dalam usus besar. Pati resisten tidak dapat atau sulit dicerna disebabkan karena beberapa hal, di antaranya adalah: (1) Pati dengan struktur molekul kompak yang menyebabkan enzim sulit untuk mencapai rantai molekulnya dan memecahnya menjadi glukosa, contohnya adalah pati alami dari biji-bijian juga umbi- umbian, (2) Rangkaian pati membentuk granula yang terangkai dalam jaringan bahan sehingga sulit untuk memecahkannya tanpa dilakukan pemanasan terlebih dahulu, seperti yang banyak terkandung pada kentang mentah, pisang yang masih hijau dan pati jagung tinggi amilosa.


Recent Posts

Regulasi Produk Pangan Nabati

Hingga saat ini belum ada standar internasional yang mengatur ketentuan terkait “plant-based” termasuk untuk definisinya. Codex sebagai salah satu referensi dunia juga belum menetapkan sta Read More »

Teknologi untuk Produk Pangan Nabati

Sejalan dengan peningkatan pasar akan produk pangan berbasis nabati, produsen perlu adaptif untuk merespons hal tersebut. Maka dari itu, perlu pula pemutakhiran di tingkat alat-alat produksi yang digu Read More »

Peran Penting Ingridien Pangan

Peran ingridien pangan menjadi semakin luas untuk menyediakan sejumlah komponen penting kesehatan, seperti zat gizi serta komponen aktif dan kontribusi pembentukan sifat fisik, sifat fisiko-kimia Read More »

Kategori Alergen Pangan

Alergi pangan terjadi akibat reaksi sistem kekebalan tubuh individu tersebut (antibodi IgE) dengan protein pangan tertentu yang telah dikonsumsinya, sehingga memunculkan berbagai gejala dengan va Read More »

Regulasi Pelabelan Alergen

Alergi pangan beserta beberapa gangguan kesehatan akibat konsumsi pangan (hipersensitivitas) menyebabkan dampak yang signifikan dengan risiko kesehatan yang tinggi. Sebagai upaya, pemerintahan di berb Read More »

Indikator untuk Autentikasi Pangan

Pemalsuan pangan terjadi karena ada kasus substitusi (substitution), memberi tambahan yang salah (unapproved enhancements), menutupi kekurangan pangan (concealment), pelabelan yang salah (mislabeling) Read More »

Analisis Senyawa Aroma Tidak Tertuju

Tahap awal adalah mengekstraksi senyawa volatil pangan yang bersangkutan. Senyawa volatil ini kebanyakan senyawa aroma (senyawa yang memiliki bau) pangan yang bersangkutan. Teknik ekstraksinya tergant Read More »

Analisis Senyawa Flavor Tertuju

Analisis flavoromik yang tertuju yaitu dengan menganalisa senyawa- senyawa flavor yang berperan terhadap sensori bahan pangan, baik aroma maupun rasa. Ilmu yang berkaitan dengan ini sebelumnya sudah d Read More »

Perkembangan Ilmu Flavoromik

Flavoromik berasal dari bidang ilmu yang sudah lama berkembang sebelumnya yaitu metabolomik dan kemometrik. Metabolomik mempelajari komposisi molekul kecil yang disebut metabolit (dalam tanaman disebu Read More »

Klaim pada Produk Pangan

Saat ini pangan sangat beragam, baik pangan segar maupun olahan. Bersamaan dengan itu maka klaim pun semakin beragam demi menarik konsumen untuk membeli dan mengonsumsi pangan yang ditawarkan. Read More »