Performa Sensoris Beragam Pemanis Non-sukrosa

 

Oleh Dwiarti Rachma Nuramalia & Christofora Hanny Wijaya
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB University

Reformulasi minuman menjadi salah satu intervensi penting dalam upaya pengurangan konsumsi gula pasir (sukrosa) dan gula-gula dengan nilai glikemik tinggi seperti glukosa, fruktosa, dan lakotosa. Langkah formulasi ini diharapkan berkontribusi dalam mengurangi risiko obesitas dan penyakit diabetes. Pemanis non-sukrosa seperti pemanis rendah atau tanpa kalori, memainkan peran sentral dalam reformulasi ini, memungkinkan terciptanya produk minuman dengan rasa manis yang tetap nikmat namun dengan kandungan gula dan kalori yang jauh lebih rendah.

Pemanis rendah atau tanpa kalori umum digunakan untuk digunakan pada industri minuman untuk mempertahankan kemanisan produk. Terdapat beberapa jenis pemanis non-sukrosa yang dikenal dan digunakan saat ini baik itu pemanis alami, pemanis buatan, dan gabungan pemanis (Chen et al. 2022). Tantangan terberat adalah perbedaan performa sensasi manis dari pemanis-pemanis pengganti ini dibandingkan pemanis sukrosa dan sejenisnya (pemanis dari golongan sakarida) yang selama ini sudah digunakan. Hal ini dapat dilihat dari produk minuman komersial yang telah mencobanya namun tidak berhasil diterima oleh pasar. Untuk mengatasinya, perlu lebih mengenal karakteristik masing-masing gula dan mengatasinya dengan kombinasi pemanis atau bahkan dengan mengkombinasikan dengan ingridien lain yang dapat meningkatkan mutu sensoris produk yang dihasilkan. 

Performa sensoris manis
Sensasi manis yang diperlukan oleh suatu produk pangan tidak sekadar rasa manis tetapi juga aroma manis dan mouthfeel (“tekstur”), bahkan juga sifat kamba (volume) serta kemampuan sebagai flavor enhancer (penguat rasa). Kriteriakriteria tersebut dimiliki oleh pemanis sukrosa dan sejenisnya. 

Selain itu, terdapat karakteristik lain Reformulasi minuman menjadi salah satu intervensi penting dalam upaya pengurangan konsumsi gula pasir (sukrosa) dan gula-gula dengan nilai glikemik tinggi seperti glukosa, fruktosa, dan lakotosa. Langkah formulasi ini diharapkan berkontribusi dalam mengurangi risiko obesitas dan penyakit diabetes. Pemanis non-sukrosa seperti pemanis rendah atau tanpa kalori, memainkan peran sentral dalam reformulasi ini, memungkinkan terciptanya produk minuman dengan rasa manis yang tetap nikmat namun dengan kandungan gula dan kalori yang jauh lebih rendah. 24 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XX / NO. 3 / MARET 2025 yang harus dipenuhi yaitu ketepatan onsite gula (munculnya rasa manis setelah dikonsumsi) dan aftertaste (cita-rasa ikutan). Sukrosa memiliki on-site yang cepat dan tajam, sensasi rasa manis tidak berlarut-larut, selain aftertaste yang bersih (clean). Khususnya kedua kriteria ini masih sulit ditemukan pada pemanis-pemanis lain yang dikenal saat ini. 

Pemahaman keunggulan dan kelemahan berbagai pemanis yang ada membantu penggunaannya sehingga dapat tepat sasaran. Pemanfaatan secara kombinasi memungkinkan untuk mengisi kekosongan kemampuan dari masing-masing pemanis dengan bijaksana.

Jenis-jenis pemanis pengganti 
Saat ini sudah dikenal berbagai pemanis-pemanis pengganti yang beredar di pasar dan juga digunakan oleh industri. Berikut ini beberapa diantaranya. 

Stevia
Stevia adalah pemanis alami yang tidak mengandung kalori. Pemanis stevia merupakan ekstrak daun stevia yang mengandung 11 komponen steviol glikosida, khususnya rebaudiosida A dan steviosida yang digolongkan sebagai pemanis utama. Ekstrak daun stevia murni dapat memiliki tingkat kemanisan 250-300 kali lebih manis dibandingkan sukrosa (Chen et al. 2022).

Stevia dinilai memiliki energi sekitar 2 kkal/g namun tidak termetabolisme dan sangat rendah sehingga dapat dikatakan bahwa stevia mengadung nol kalori. JECFA menyatakan asupan harian yang dapat diterima (ADI) dari stevia ekstrak (steviol glikosida) adalah sebesar 12 mg per kg berat badan per hari, sedangkan menurut FDA, kategori GRAS dapat dilekatkan pada glikosida steviol dengan kemurnian tinggi (kemurnian minimum 95%) (FDA2024). Salah satu kekurangan utama dari stevia adalah rasa pahit dan rasa licorice. Pengurangan rasa yang tidak diinginkan tersebut pada pangan biasanya digunakan bulking agents terutama pada beberapa formulasi minuman. Selain itu, penggunaan perisa dalam formulasi minuman dengan stevia dapat menutupi rasa yang tidak diinginkan, khususnya perisa buah yang dapat meningkatkan keseluruhan rasa karena interaksi antara perisa buah dan pemanis. Proses perkolasi dan nanofiltrasi dilaporkan juga efektif dalam menghilangkan rasa yang tidak disukai tersebut (Ashwell 2015).

Luo Han Guo

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait