Tantangan Industri Pangan 2014




Apa yang akan dihadapi industri pangan tanah air tahun depan? Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman (PIPIMM) menggelar temu wartawan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bertempat di Ruang Rapat Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN), Gedung Kementerian Perindustrian (20/12/2013), PIPIMM melalui Sekjen-nya, Franky Sibarani memperkirakan bahwa pertumbuhan industri pangan tahun depan mencapai 6%. “Banyak yang akan dihadapi oleh industri pangan tahun depan, diantaranya kenaikan UMP rata-rata 20-30 persen, rencana knaikan tarif dasar listrik (TDL) golongan I3 sebesar 38,9%, harga gas yang juga berpotensi naik tahun 2014, nilai tukar rupiah yang semakin menurun, serta maraknya produk pangan ilegal di pasaran Indonesia,” jelas Franky.


Kenaikan TDL nantinya akan mengakibatkan kenaikan biaya produksi, kenaikan harga, pengurangan kapasitas produksi, hingga pengurangan tenaga kerja dan percepatan otomatisasi. Franky memperkirakan kenaikan harga 2014 dapat mencapai 10-15 persen. Nilai tukar rupiah juga semakin menurun. “Akhir tahun ini saja nilai tukar rupiah mencapai Rp 12.000, menurun tajam bila dibanding awal tahun 2013 (Rp 9.500). Demikian pula bunga bank yang semakin tinggi. Dalam 7 bulan, BI telah menaikkan BI rate dengan total sebesar 175 basis poin dari 5,75% menjadi 7,5%, hal ini menyebabkan naiknya suku bunga pinjaman,” jelas Franky. Kondisi seperti ini sangat tidak mendukung industri untuk berkembang, apalagi untuk industri skala kecil dan menengah yang semakin tergerus baik jumlah produksi maupun omzetnya. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah masuknya produk pangan ilegal yang sangat merugikan industri dalam negeri. Tantangan pengwasan terhadap produk ilegal masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang wajib diselesaikan. “Keamanan produk ilegal tidak ada yang menjamin, hal ini bisa membahayakan masyarakat Indonesia yang mengonsumsinya,” tandas Franky.


Tak hanya tantangan yang akan dihadapi industri pangan tahun depan, pemilihan umum (PEMILU) yang akan digelar tahun 2014 membawa sedikit angin segar bagi industri tanah air. Franky memperkirakan ada 44 triliun rupiah uang yang akan beredar saat pesta rakyat tersebut. Diharapkan, konsumsi produk dalam negeri akan meningkat dan akan membawa dampak positif bagi industri pangan tanah air.


Industri dalam negeri tidak hanya dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan dari dalam, tetapi juga harus bersiap menghadapai masyarakat ekonomi ASEAN 2015. Produk dalam negeri harus bisa bersaing dengan produk luar dengan mutu dan harga yang lebih baik. Sebanyak 56 juta UKM di Indonesia, 70% terdiri dari UKM pangan. Pembinaan dan pendampingan perlu dilakukan oleh pemerintah agar UKM pangan Indonesia lebih optimal meningkatkan potensi pasar dalam negeri. Ita

Artikel Lainnya