Persyaratan Keamanan Pangan dalam Proses Sertifikasi Halal




Pangan yang halal dapat diartikan sebagai pangan yang thoyyib (baik), lezat, aman, dan sehat. Yakni pangan tersebut tidak kotor, terkontaminasi dengan zat yang berbahaya, serta diolah sesuai dengan peraturan penanganan pangan halal yang berlaku. Pangan yang halal tentunya harus memenuhi unsur keamanan pangan, yakni aman secara fisik, kimia, maupun mikrobiologi sehingga tidak menyebabkan sakit atau menimbulkan penyakit.

Mengacu pada SNI ISO/IEC 17065: 2012 dan UAE 2055:2 untuk lembaga sertifikasi halal, dalam proses sertifikasi halal untuk industri pangan yang diberlakukan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), terdapat penambahan persyaratan keamanan pangan. Hal ini di karenakan kriteria keamanan pangan telah menjadi kriteria yang dipersyaratkan di dalam pengurusan sertifikasi halal Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

“Selain audit sesuai kriteria HAS 23000, LPPOM MUI akan melakukan audit tambahan yakni audit keamanan pangan. Bagi perusahaan pangan yang ingin mendaftarkan sertifikasi halal ke LPPOM MUI, maka harus memenuhi persyaratan sertifikasi halal yakni memenuhi kriteria sistem jaminan halal HAS 23000:1 dan audit keamanan pangan,” terang Kepala Bidang Standardisasi dan Jaminan Mutu LPPOM MUI Dr. Ir. Muslich, M.Si dalam Halal Webinar Series “Pemenuhan Kriteria Keamanan Pangan pada Proses Sertifikasi Halal” yang diselenggarakan oleh LPPOM MUI dan KAN pada Kamis, 17 September 2020.

Bagi perusahaan pangan yang telah memiliki sertifikat keamanan pangan seperti ISO 22 000, FSSC 22 000, Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), Good Manufacturing Practices (GMP), sertifikat produksi pangan industri rumah tangga (P-IRT), dan sertifikat lainnya, perusahaan dapat menyampaikan kepada auditor hasil audit BPOM/kementerian kesehatan/lembaga sertifikasi/audit internal terkait keamanan pangan sebelumnya. Fri-37

Artikel Lainnya

  • Jan 22, 2021

    Inovasi Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan

    Berbagai inovasi penggunaan kecerdasan buatan untuk pangan telah dilakukan di berbagai negara maju. Sebagai contoh, Majalah Forbes (April 2020) menyajikan artikel yang berjudul “This AI Camera Can Help Restaurants Show that Their Food is Safe from Coronavirus”. Penemuan mutakhir ini merupakan terobosan yang cukup nyata dalam industri pangan. Alat ini mampu memastikan bahwa makanan yang dihidangkan terbebas dari virus korona karena telah dipersiapkan dengan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini dimungkinkan karena pembuatan makanan dipantau lewat kamera yang menggunakan algoritma cerdas dan teknik image recognition. ...

  • Jan 21, 2021

    Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan 2021

    Saat ini digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi bisnis dan industri. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robot mampu melaksanakan berbagai tugas lebih cepat dan lebih baik (presisi) dari pada manusia. Walaupun atmosfir digitalisasi di industri pangan sudah terasa sejak dicanangkannya program “Making Indonesia 4.0” beberapa tahun lalu, namun penerapannya masih belum memuaskan. Diperkirakan baru sekitar 5-10% industri pangan yang sudah melaksanakan program digitalisasi. Selebihnya baru pada tahap pengenalan (familiarisasi) atau bahkan belum mengenal digitalisasi sama sekali. Padahal kalau kita bandingkan dengan luar negeri, negara kita masih jauh tertinggal dalam proses digitalisasi. ...

  • Jan 20, 2021

    Kinerja Pangan Strategis

    Dari sisi suplai, sektor pertanian mencatat pertumbuhan positif dan menjadi bantalan (cushion) di tengah resesi ekonomi Indonesia. Sektor pertanian tumbuh 2,19 dan 2,15% (y-on-y) dan pada Q2 dan Q3- 2020. ...

  • Jan 19, 2021

    Pola Konsumsi Masa Pandemi

    Sepanjang tahun 2020, komponen sisi pengeluaran seluruhnya mengalamai kontraksi, kecuali pengeluaran pemerintah yang mengalami pertumbuhan 9,76% (y-o-y) pada Q3-2020. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga masih terkontraksi minus 4,04%, pengeluaran konsumsi LNPRT (Lembaga non-profit yang melayani rumah tangga) juga minus 2,12%, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) negatif 6,48%, ekspor negatif 10,82%, dan impor lebih parah sampai minus 21,86%. ...

  • Jan 18, 2021

    Industri Pangan 2021

    Pandemi virus korona di tahun 2020 telah menyebabkan perubahan di berbagai lini kehidupan, seperti cara berbelanja, bersosialisasi, belajar hingga hiburan dan lainnya. Industri pangan misalnya, harus segera menyesuaikan dengan kondisi yang tidak menentu untuk tetap dapat menyediakan kebutuhan pangan bagi konsumennya (yang lebih memilih dan sadar mencari produk-produk untuk kesehatan dan kebugaran). ...