Pengurangan GGL: Tantangan Transformasi Pangan Ringan dan Konfeksioneri

 

Oleh Patricia R. Tobing
Regulatory Affairs GAPMMI

Pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini memperlihatkan kecenderungan peningkatan asupan Gula, Garam, dan Lemak (GGL) yang melebihi batas anjuran harian. Kondisi ini perlu menjadi sinyal penting bagi industri pangan dan pembuat kebijakan untuk meninjau ulang formulasi serta strategi penyediaan pangan yang lebih menyehatkan.

Konsumsi GGL yang berlebihan ini telah terbukti menjadi salah satu faktor utama yang memicu peningkatan risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan obesitas. Peningkatan prevalensi obesitas di Indonesia sendiri terbilang signifikan, dari 15,4% pada tahun 2013 menjadi 21,8% pada tahun 2018.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) telah menyarankan batas konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) per orang per hari, yakni 50 gram atau 4 sendok makan gula, 2.000 miligram natrium/ atau 5 gram atau 1 sendok teh garam (natrium/sodium), dan lemak hanya 67 gram atau 5 sendok makan minyak goreng. Sebagai salah satu intervensi, pemerintah bahkan merencanakan implementasi cukai pada minuman perpemanis dalam kemasan (MBDK) sebagai langkah strategis untuk menekan asupan GGL berlebih.

Pangan ringan dan konfeksioneri: sumber GGL yang krusial
Dalam konteks pangan olahan, fokus reformulasi sering tertuju pada kategori produk yang secara inheren mengandalkan GGL, yaitu pangan ringan (snack) dan konfeksioneri (permen/kembang gula). Menurut Keputusan Kepala BPOM No. 70 Tahun 2025, pangan ringan sangat beragam, mencakup seluruh pangan (makanan) ringan siap santap (Kategori 15.0), seperti keripik, kacang-kacangan olahan, dan makanan ringan berbasis ikan (Subkategori 15.1 – 15.3). Sementara itu, produk konfeksioneri (Kategori 05.0) meliputi permen (keras, kenyal, gummy) dan produk berbasis cokelat.

Meskipun pangan ringan berfungsi sebagai sumber energi cepat atau sekadar camilan berukuran kecil yang mudah dikonsumsi, produk konfeksioneri juga memberikan manfaat dalam batas wajar, seperti: menjadi sumber energi cepat melalui gula sederhana, meningkatkan suasana hati dengan stimulasi dopamin, dan mengurangi stres (terutama pada cokelat karena kandungan teobrominnya).

 


Pada dasarnya, kedua kategori produk ini—pangan ringan dan konfeksioneri— sangat bergantung pada GGL. Gula memberikan rasa manis, tekstur, dan volume; garam memberikan rasa gurih dan flavor enhancer; sedangkan lemak berkontribusi pada mouthfeel, tekstur, dan kerenyahan (crispiness). Selain itu, pati atau karbohidrat yang terkandung juga akan bermetabolisme menjadi gula.

Oleh karena itu, upaya reformulasi yang menargetkan penurunan GGL sebesar 20–50% merupakan tantangan teknis yang sangat kompleks. Dibutuhkan dukungan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang tepat, seperti pemanis nol kalori, penguat rasa non- natrium, dan fat replacer yang mampu mempertahankan struktur, rasa, dan karakteristik yang disukai konsumen.

Strategi reformulasi pangan dengan BTP
Dorongan untuk mengurangi konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) dalam produk pangan olahan, terutama pada kategori pangan ringan (snack) dan konfeksioneri, menuntut strategi reformulasi yang cermat. Tantangan utamanya adalah mempertahankan rasa dan tekstur yang disukai konsumen meskipun komponen GGL dikurangi hingga 20–50%. Salah satu solusi kunci dalam proses ini terletak pada pemanfaatan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang diatur ketat oleh Badan POM (Peraturan BPOM No. 11 Tahun 2019).

1. Reformulasi gula: pemanis intensitas tinggi dan bulking agent
Untuk mengurangi kandungan gula, produsen beralih ke kombinasi pemanis intensitas tinggi dan bulking agent (bahan pengisi). Pemanis seperti acesulfame-K (Ace-K), sucralose, aspartame, dan stevia digunakan dalam batas maksimum yang ditetapkan (misalnya, Ace-K 350–500 mg/kg untuk permen; stevia 200–300 mg/kg setara steviol). Pemanis ini harus dipadukan dengan polyol seperti sorbitol, isomalt, dan maltitol syrup untuk menggantikan massa (bulk) gula yang hilang. Isomalt dan erythritol, misalnya, dianggap aman sebagai polyol dan dapat digunakan secara ad libitum atau tanpa batas numerik untuk memberikan tekstur dan mouthfeel yang serupa dengan sukrosa. Contoh aplikasinya terlihat pada formulasi hard candy reduced sugar (40% reduksi) yang mengganti sebagian besar sukrosa dengan isomalt (45%) dan maltitol syrup (20%) untuk mencegah kristalisasi.

2. Reformulasi garam: mengandalkan penguat rasa umami

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait