INDUSTRI PANGAN FUNGSIONAL INDONESIA: Peluang untuk Membangun Kesehatan Bangsa


 

Dalam berbagai pustaka, perkembangan industri pangan fungsional tidak bisa dilepaskan dari Jepang. Di Jepang, industri pangan fungsional mulai berkembang dengan baik sejak awal tahun 1980an. Hal ini antara lain disebabkan karena konsumen Jepang yang mulai menyadari hubungan erat antara pangan dan kesehatan; dan mempunyai kepercayaan yang tinggi tentang pentingnya pemeliharaan kesehatan dengan cara konsumsi pangan tertentu yang mempunyai fungsi-fungsi kesehatan.

Sejak tahun 1991, dalam rangka mengendalikan dan mengurangi biaya kesehatan terus meningkat, diluncurkanlah satu kategori pangan dengan potensi manfaat kesehatan - yang sekarang popular disebut sebagai FOSHU; yaitu Foods for Specified Health Uses (Ashwell, 2002). Dengan diluncurkannya satu kategori pangan khusus ini (FOSHU), pemerintah Jepang mengembangkan sistem penilaian dan persetujuan (approval) terhadap produk industri pangan yang telah ditunjukkan mempunyai manfaat khusus bagi kesehatan, dan untuk produk tersebut bisa mencantumkan logo FOSHU khusus (Gambar 1). Sejak itu, industri FOSHU berkembang dengan pesat, dan menjadikan Jepang sebagai salah satu negara yang banyak mengekspor produk dengan manfaat kesehatan. Jepang juga menjadi acuan banyak Negara dalam mengembangkan industri pangan fungsionalnya.


Oleh: Purwiyatno Hariyadi
Selengkapnya artikel ini dapat dibaca di majalah FOODREVIEW INDONESIA edisi Mei 2015, yang dapat diunduh di www.foodreview.co.id

 

Artikel Lainnya

  • Jan 21, 2021

    Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan 2021

    Saat ini digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi bisnis dan industri. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robot mampu melaksanakan berbagai tugas lebih cepat dan lebih baik (presisi) dari pada manusia. Walaupun atmosfir digitalisasi di industri pangan sudah terasa sejak dicanangkannya program “Making Indonesia 4.0” beberapa tahun lalu, namun penerapannya masih belum memuaskan. Diperkirakan baru sekitar 5-10% industri pangan yang sudah melaksanakan program digitalisasi. Selebihnya baru pada tahap pengenalan (familiarisasi) atau bahkan belum mengenal digitalisasi sama sekali. Padahal kalau kita bandingkan dengan luar negeri, negara kita masih jauh tertinggal dalam proses digitalisasi. ...

  • Jan 20, 2021

    Kinerja Pangan Strategis

    Dari sisi suplai, sektor pertanian mencatat pertumbuhan positif dan menjadi bantalan (cushion) di tengah resesi ekonomi Indonesia. Sektor pertanian tumbuh 2,19 dan 2,15% (y-on-y) dan pada Q2 dan Q3- 2020. ...

  • Jan 19, 2021

    Pola Konsumsi Masa Pandemi

    Sepanjang tahun 2020, komponen sisi pengeluaran seluruhnya mengalamai kontraksi, kecuali pengeluaran pemerintah yang mengalami pertumbuhan 9,76% (y-o-y) pada Q3-2020. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga masih terkontraksi minus 4,04%, pengeluaran konsumsi LNPRT (Lembaga non-profit yang melayani rumah tangga) juga minus 2,12%, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) negatif 6,48%, ekspor negatif 10,82%, dan impor lebih parah sampai minus 21,86%. ...

  • Jan 18, 2021

    Industri Pangan 2021

    Pandemi virus korona di tahun 2020 telah menyebabkan perubahan di berbagai lini kehidupan, seperti cara berbelanja, bersosialisasi, belajar hingga hiburan dan lainnya. Industri pangan misalnya, harus segera menyesuaikan dengan kondisi yang tidak menentu untuk tetap dapat menyediakan kebutuhan pangan bagi konsumennya (yang lebih memilih dan sadar mencari produk-produk untuk kesehatan dan kebugaran). ...

  • Des 30, 2020

    Tren Snack Lebih Menyehatkan

    Produk snack bercita rasa asin-gurih (savory snacks) sampai saat ini masih banyak diminati dan mengisi pasar-pasar yang ada. Pertumbuhan ekonomi dan pergeseran demografis menciptakan pemintaan yang baru untuk produk dengan pengalaman rasa yang lebih banyak di negara Asia. Pasar konsumen yang muncul di Asia lebih memilih produk dengan flavor yang kuat dengan karakter eksotis yang lekat.  ...