Cemaran Sampah di Laut Timbulkan Mikroplastik pada Seafood



Di Indonesia, pencemaran pantai dan laut oleh logam berat dan beragam senyawa beracun lainnya sudah menjadi pemberitaan sejak beberapa dekade lalu. Sayangnya, setiap kali media mengangkat berita pencemaran itu maka reaksi yang muncul hanya sesaat. Berita pencemaran dengan cepat akan dilibas oleh pemberitaan lain, terutama warta politik. Sekarang adalah saat untuk bertindak. Pencemaran laut, terutama pantai, sudah mengancam keamanan pangan hasil laut atau seafood.

Sejak publikasi Jenna R. Jambeck dan tujuh rekannya di majalah Science (13/2/2015) yang lalu, seolah plastik mendadak muncul sebagai ìpenjahatî baru yang turut mencemari laut. Memang harus diakui artikel Jambeck dkk. telah berhasil menjadi peniup peluit yang menyentakkan kita semua tentang seriusnya pencemaran plastik. Padahal proses pembuangan sampah plastik ke badan air ñ dari selokan ke sungai ke pantai dan ke lautan luas ñ telah berlangsung puluhan tahun. Terungkap bahwa pada 1970 sudah ada laporan ilmiah tentang pencemaran plastik di laut. Sungguh sebuah ironi ketika Indonesia yang dalam Konferensi Kelautan PBB pada 8 Juni 2017 di New York, berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik di laut hingga 70% pada tahun 2025, ternyata belum memiliki data pencemaran plastik di laut. Akan lebih ironis lagi jika pengampu kebijakan hanya mengandalkan data Jambeck dkk (2015).

Selengkapnya silakan baca Foodreview Indonesia edisi April 2018 "Food Safety Is A Must". Hubungi langganan@foodreview.co.id atau 0251 8372 333, WA 0811 1190 039.

Artikel Lainnya

  • Jan 23, 2021

    Strategi Percepatan Perapan Kecerdasan Buatan

    Penerapan dan adopsi teknologi digital maju seperti AI di industri pangan masih belum sesuai harapan. Banyak industri pangan saat ini berada pada posisi wait and see. Jika pesaingnya menerapkan AI, barulah dia juga akan menerapkan AI. ...

  • Jan 22, 2021

    Inovasi Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan

    Berbagai inovasi penggunaan kecerdasan buatan untuk pangan telah dilakukan di berbagai negara maju. Sebagai contoh, Majalah Forbes (April 2020) menyajikan artikel yang berjudul “This AI Camera Can Help Restaurants Show that Their Food is Safe from Coronavirus”. Penemuan mutakhir ini merupakan terobosan yang cukup nyata dalam industri pangan. Alat ini mampu memastikan bahwa makanan yang dihidangkan terbebas dari virus korona karena telah dipersiapkan dengan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini dimungkinkan karena pembuatan makanan dipantau lewat kamera yang menggunakan algoritma cerdas dan teknik image recognition. ...

  • Jan 21, 2021

    Kecerdasan Buatan untuk Industri Pangan 2021

    Saat ini digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi bisnis dan industri. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robot mampu melaksanakan berbagai tugas lebih cepat dan lebih baik (presisi) dari pada manusia. Walaupun atmosfir digitalisasi di industri pangan sudah terasa sejak dicanangkannya program “Making Indonesia 4.0” beberapa tahun lalu, namun penerapannya masih belum memuaskan. Diperkirakan baru sekitar 5-10% industri pangan yang sudah melaksanakan program digitalisasi. Selebihnya baru pada tahap pengenalan (familiarisasi) atau bahkan belum mengenal digitalisasi sama sekali. Padahal kalau kita bandingkan dengan luar negeri, negara kita masih jauh tertinggal dalam proses digitalisasi. ...

  • Jan 20, 2021

    Kinerja Pangan Strategis

    Dari sisi suplai, sektor pertanian mencatat pertumbuhan positif dan menjadi bantalan (cushion) di tengah resesi ekonomi Indonesia. Sektor pertanian tumbuh 2,19 dan 2,15% (y-on-y) dan pada Q2 dan Q3- 2020. ...

  • Jan 19, 2021

    Pola Konsumsi Masa Pandemi

    Sepanjang tahun 2020, komponen sisi pengeluaran seluruhnya mengalamai kontraksi, kecuali pengeluaran pemerintah yang mengalami pertumbuhan 9,76% (y-o-y) pada Q3-2020. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga masih terkontraksi minus 4,04%, pengeluaran konsumsi LNPRT (Lembaga non-profit yang melayani rumah tangga) juga minus 2,12%, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) negatif 6,48%, ekspor negatif 10,82%, dan impor lebih parah sampai minus 21,86%. ...